Perspektif Berbeda antara Kritikus dan Penonton di Avatar: Fire and Ash
Film terbaru James Cameron, Avatar: Fire and Ash, mengalami perbedaan yang mencolok dalam penilaian antara kritikus dan penonton. Meskipun mendapat kritik tajam, film ini tetap disambut baik oleh penggemar dengan skor tinggi di berbagai platform.
Baca juga: Transformasi Kamar Kecil Menjadi Tempat Nyaman
Avatar: Fire and Ash, instalmen ketiga dalam saga Avatar, meraih tingkat penilaian 66 persen dari 307 kritikus di Rotten Tomatoes. Ini adalah angka terendah dibandingkan dua film terdahulu, dengan Avatar (2009) meraih 81 persen.
Beberapa kritikus menilai bahwa film ini hanya mengandalkan efek visual yang memukau tanpa menyajikan kedalaman cerita yang berarti. Stephanie Zacharek dari TIME Magazine menyatakan bahwa "visi Cameron tidak lagi terasa sebagai masa depan, melainkan sebuah perjalanan nostalgia, bentuk deja vu yang sangat mahal."
Peter Bradshaw dari The Guardian menambahkan, "Avatar tetap sama besarnya dalam ketidakmenarikan dan sama kolosalnya dalam ketahanan terhadap kritik seperti sebelumnya: sebuah bangunan besar yang kosong, yang dengan tenang menolak segala keberatan."
Nicholas Barber dari BBC.com menggambarkan film ini sebagai "197 menit grafis seperti screensaver, dialog kaku, alur cerita yang menggelembung dan longgar," memberikan kekhawatiran akan sekuel yang akan datang.
Di tengah kritik yang ada, beberapa orang tetap mengapresiasi keahlian James Cameron dalam membuat film ini. Jake Coyle dari Associated Press mencatat bahwa "ini tetap merupakan epik dalam hal keterampilan dan keyakinan," menyoroti pengabdian Cameron dalam menciptakan dinamika karakter.
Baca juga: Meningkatkan Kebugaran dengan Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat
David Ehrlich dari IndieWire menekankan bahwa meskipun film ini mengikuti pola yang sama, Cameron berhasil menghasilkan momen-momen tertentu yang terasa baru dan menyegarkan. "[Ekspektasi] tidak mempersiapkan saya pada kenyataan menyaksikan salah satu penjelajah terbesar sinema berjalan berputar-putar selama tiga jam," ungkap Ehrlich.
Pandangan yang beragam ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat hambatan dalam narasi, ada pengakuan akan keahlian teknis yang ditampilkan dalam film ini. Film ini juga menunjukkan perhatian yang mendalam terhadap karakter-karakternya, yang menjadi salah satu aspek yang dihargai dalam penggarapannya.
Dari penilaian penonton, Avatar: Fire and Ash memperoleh 91 persen di Popcornmeter, menunjukkan bahwa banyak penonton menikmati film ini meskipun menuai banyak kritik. Hal ini mencerminkan ketidakcocokan dalam persepsi antara kritikus dan audiens.
Beberapa penonton tanggap terhadap kritik yang ada, menyatakan bahwa kesamaan cerita dengan film sebelumnya adalah hal wajar mengingat statusnya sebagai sekuel. Mereka juga menghargai cara Cameron mengembangkan karakter dan plot meskipun dinilai sederhana oleh beberapa kritikus.
Film ini mengisahkan konflik internal dalam keluarga Jake Sully setelah peristiwa dalam film sebelumnya, The Way of Water. Cerita ini juga melibatkan interaksi dengan suku Mangkwan dan ujian kesetiaan yang dihadapi oleh keluarga tersebut.
Avatar: Fire and Ash telah tayang sejak 17 Desember 2025 di bioskop Indonesia, dan meskipun tidak memenuhi ekspektasi beberapa kritikus, daya tarik saga Avatar tetap terbukti kuat di kalangan penonton.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: