zenmoms.id – Tren membeli mainan yang meningkat, seperti edisi terbatas boneka, saat ini terlihat jelas di kalangan generasi muda, khususnya milenial dan generasi Z. Mereka yang berusia di atas dua dekade tampaknya tengah menikmati kenangan masa kecil melalui fenomena bernama kidulting.
Asal Mula Kidulting dan Perkembangannya
Fenomena kidulting mulai populer sejak pertengahan tahun 1980-an, yang menggabungkan konsep anak-anak dan dewasa dalam perilakunya. Istilah ini menggambarkan individu yang memiliki jiwa anak tetapi terjebak dalam kehidupan orang dewasa, sehingga mereka mencari kembali kesenangan dari masa kecil.
Seiring berjalannya waktu, kidulting semakin sering digunakan untuk menggambarkan orang dewasa yang mencari pengalaman nostalgik dari mainan atau barang-barang masa kecil. Brand-brand besar seperti LEGO dan Mattel pun memanfaatkan kecenderungan ini dengan meluncurkan produk-produk yang menjalin kembali ingatan indah masa lalu.
Pertumbuhan Pasar Mainan untuk Segmen Dewasa
Industri mainan kini mendapati kelompok demografi dewasa menjadi konsumen yang penting, seperti terlihat dalam laporan dari Circana. Penjualan mainan yang ditargetkan untuk orang dewasa dalam dua tahun terakhir meningkat sebesar 5,5 persen, melampaui penjualan di kalangan remaja yang tumbuh hanya 3,3 persen.
Ironisnya, penjualan mainan untuk anak-anak mengalami penurunan yang cukup signifikan. Dorongan untuk mengoleksi barang-barang nostalgi dan menyalurkan kembali keinginan di masa kecil menjadi alasan utama bagi banyak orang dewasa membeli mainan yang pernah mereka impikan.
Dampak Pandemi Terhadap Budaya Kidulting
Pandemi COVID-19 telah menjadi faktor penting yang mempercepat tren kidulting di masyarakat. Selama masa-masa sulit tersebut, banyak orang dewasa menemukan kembali kegembiraan dari hobi dan permainan yang mereka jalani di masa kecil.
Aktivitas seperti mengerjakan puzzle, bermain video game, ataupun mengoleksi barang nostalgia kembali diminati. Fenomena kidulting menunjukkan bahwa kebutuhan akan hiburan nostalgik telah melampaui sekadar tren, menjelma menjadi gaya hidup yang mengakar di generasi muda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: