Senin, 03 NOVEMBER 2025 • 11:41 WIB

Kritik Terhadap Pandji Pragiwaksono: Sensitivitas Budaya Dalam Stand-Up Comedy

Author

Kritik Terhadap Pandji Pragiwaksono: Sensitivitas Budaya Dalam Stand-Up Comedy

Komika Pandji Pragiwaksono mendapat sorotan tajam setelah penampilannya yang menyentuh budaya Toraja di panggung stand-up comedy.

Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Catat Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak

Masyarakat Toraja melayangkan tuntutan permintaan maaf atas pernyataan yang dinilai menghina adat setempat.

Kritik dari Masyarakat Toraja

Ketua Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) Makassar, Amson Padolo, menyatakan, 'Kami sangat menyayangkan seorang tokoh publik berpendidikan seperti Pandji menjadikan adat Toraja sebagai bahan lelucon.' Pernyataan ini muncul karena Pandji dianggap telah mengecilkan makna dan nilai dari tradisi masyarakat Toraja.

Amson menambahkan bahwa ada dua hal yang membuat masyarakat Toraja merasa sakit hati. Pertama, klaim bahwa kemiskinan masyarakat Toraja disebabkan oleh pesta adat dianggap tidak berdasar.

Kedua, terdapat kesalahpahaman yang menyebutkan bahwa jenazah orang yang telah meninggal disimpan di ruang tamu, yang dinilai sebagai informasi yang keliru dan sangat menyinggung.

Baca juga: Penjarahan Rumah Uya Kuya: Korban dari Video Viral dan Respon Publik

Pemahaman tentang Tradisi Rambu Solo

Bagi masyarakat Toraja, tradisi Rambu Solo bukan sekadar pesta kemewahan, tetapi merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal.

Amson menjelaskan, 'Esensi Rambu Solo itu penghormatan kepada orang tua atau kerabat yang telah meninggal.' Prosesi ini mencerminkan nilai-nilai kekerabatan, gotong royong, dan kasih sayang yang terjalin di dalam komunitas.

Amson juga menggarisbawahi bahwa upacara ini merupakan hasil akulturasi antara ajaran Aluk Todolo dan nilai-nilai kekristenan yang ada di Toraja.

Tuntutan Permintaan Maaf dan Tanggung Jawab Moral

Amson menyatakan bahwa sebagai tokoh publik, Pandji seharusnya lebih peka dan memahami konteks budaya sebelum melontarkan candaan yang berpotensi menyakiti perasaan orang lain.

'Kami menuntut Pandji meminta maaf secara terbuka,' tegas Amson. Ia percaya bahwa ini bukan hanya menyangkut satu suku, melainkan sebuah pelajaran bagi semua untuk lebih berhati-hati dalam memperlakukan budaya orang lain.

Pentingnya tanggung jawab moral bagi tokoh publik dikemukakan oleh Amson, agar isu sensitif seperti ini tidak terulang di masa depan.

Baca juga: Uya Kuya Terkena Imbas Penjarahan Pasca Video Joget Viral

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU