Pasar Kencan Online Mengincar Peluang di Asia, Termasuk Indonesia
Perusahaan kencan online kini fokus mencari peluang baru di pasar Asia setelah mengalami stagnasi di Amerika Utara dan Eropa. Kelelahan pengguna dalam mencari pasangan secara daring menjadi salah satu penyebab utama migrasi perhatian ini.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam di Perkotaan
Pasar Asia, dengan Indonesia di dalamnya, menunjukkan peningkatan pengguna yang pesat, terutama di kalangan perempuan. Hal ini bergerak seiring dengan berkurangnya stigma terhadap kencan daring dan kebutuhan untuk menemukan pasangan di luar lingkungan sosial yang ada.
Platform seperti Tinder dan Bumble mulai menghadapi tantangan dalam mempertahankan jumlah pengguna di Barat. Pengguna aktif Tinder tercatat turun 10% menjadi 51 juta pada paruh pertama 2025, berdasarkan laporan terbaru.
Sementara itu, Bumble juga mengalami penurunan yang sama dengan pengguna yang berkurang 5%, berjumlah 20,8 juta. Dengan beralihnya fokus ke pasar Asia, perusahaan-perusahaan ini berharap dapat menemukan pertumbuhan di wilayah yang semakin tertarik dengan kencan online.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Terbaru dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Pendingin Canggih
Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna aplikasi kencan online yang signifikan. Data menunjukkan, negara-negara Asia, termasuk Indonesia, mendominasi lima besar dalam hal pertumbuhan unduhan aplikasi kencan sepanjang tahun 2025.
Meski demikian, meskipun pengguna terus bertambah, pendapatan yang dihasilkan dari aplikasi ini belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hanya Jepang yang berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan diantara negara-negara Asia lain.
Shn Juay, Chief Executive dari Coffee Meets Bagel, memberikan pandangan bahwa perempuan di Asia semakin berupaya dalam mencari pasangan melalui aplikasi kencan. "Perempuan tak lagi bergantung pada keluarga dan teman untuk memperkenalkan mereka ke jodoh masa depan," ujarnya.
Pergeseran ini memaksa aplikasi kencan untuk beradaptasi dengan norma budaya yang bervariasi di setiap negara. "Orang-orang di Asia cenderung lebih berorientasi pada tujuan tertentu, yaitu mencari pasangan dalam jangka waktu lama," tambah Juay.
Baca juga: Mengenali Gejala Awal Serangan Jantung untuk Pencegahan yang Lebih Baik
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: