zenmoms.id – Fenomena deja vu sering kali membuat seseorang merasa seolah-olah telah mengalami suatu momen sebelumnya. Penelitian yang mendalam tentang pengalaman ini terus dilakukan untuk mengungkap mekanisme di baliknya.
Dokter dan ilmuwan menyebutkan bahwa fenomena ini terjadi pada sekitar 60-70% orang dewasa setidaknya sekali dalam hidup. Beragam teori telah muncul untuk menjelaskan deja vu, mengaitkan pengalaman ini dengan cara otak memproses ingatan.
Deja vu adalah pengalaman umum yang menjadikan seseorang merasa telah hidup atau mengalami situasi serupa sebelumnya. Merupakan sensasi yang membuat individu merasa terjebak dalam lingkaran waktu, pengalaman ini sering kali disertai perasaan yang membingungkan.
Statistik menunjukkan bahwa antara 60-70% orang dewasa melaporkan pernah mengalami deja vu setidaknya sekali seumur hidup. Pengalaman ini diyakini berhubungan erat dengan cara otak kita memproses ingatan, sehingga menciptakan ilusi familiaritas.
Salah satu teori yang paling umum menyatakan bahwa deja vu terjadi akibat gangguan dalam pengolahan memori otak. Dalam situasi tertentu, otak dapat melaporkan informasi baru sebagai sesuatu yang sudah dikenal.
Teori lain mengemukakan bahwa fenomena ini terjadi ketika otak menggabungkan pengalaman masa lalu dan saat ini, menciptakan ilusi yang kuat tentang familiaritas. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa individu merasa yakin telah mengalami sebuah kejadian di waktu lampau.
Ada pula penelitian yang menunjukkan bahwa deja vu lebih sering dialami oleh orang-orang dengan daya ingat yang baik. Peneliti berargumentasi bahwa ingatan yang baik meningkatkan kemungkinan seseorang mengaitkan situasi baru dengan pengalaman serupa sebelumnya.
Penelitian terbaru yang menggunakan teknologi pencitraan otak bertujuan untuk memahami fenomena deja vu dengan lebih mendalam. Dalam studi ini, aktivitas otak subjek yang mengalami deja vu diobservasi untuk menemukan pola atau indikator spesifik.
Beberapa subjek diminta untuk mendokumentasikan pengalaman deja vu mereka, serta mengaitkannya dengan catatan aktivitas otak yang direkam. Hasilnya menunjukkan bahwa area tertentu di otak menjadi aktif, menandakan adanya hubungan antara pengalaman dan memori.
Studi-studi semacam ini menunjukkan siklus menarik antara disiplin sains, psikologi, dan neurologi. Pengetahuan yang lebih dalam tentang fenomena deja vu bisa memberikan wawasan mengenai mekanisme otak dalam memori dan pengalaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: