BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Rabu, 01 OKTOBER 2025 • 15:02 WIB

Sorotan Ombudsman Terhadap Program Makan Bergizi Gratis: Penyajian hingga Transparansi Bahan Baku

Sorotan Ombudsman Terhadap Program Makan Bergizi Gratis: Penyajian hingga Transparansi Bahan BakuSorotan Ombudsman Terhadap Program Makan Bergizi Gratis: Penyajian hingga Transparansi Bahan Baku

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan tajam setelah pengamatan dari anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika, yang menilai penyajian makanan tidak memenuhi standar.

Baca juga: Mengungkap Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental dan Emosional

Ia menyoroti penyajian buah semangka yang diiris tipis layaknya tisu sebagai contoh penyimpangan serius dalam pengadaan dan penggunaan bahan baku.

Kritik Pernyajian Makanan MBG

Yeka Hendra Fatika, dalam keterangan resminya, menyatakan, "Yang terjadi itu adalah permainan di bahan baku. Itu sangat unik. Faktanya banyak beredar, misalnya menu untuk Rp 10.000 porsi tapi buahnya (semangka) tipis banget, seperti tisu ‘wer-ewer’ gitu."

Penyajian semangka yang tidak sesuai dengan prinsip dasar program MBG ini dianggap melanggar tujuan utama, yaitu menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak.

Yeka juga menambahkan, "Kalau cuma kasih snack atau buah yang sangat tipis, itu jelas permainan bahan baku, dan itu melanggar."

Baca juga: Sri Mulyani Serukan Cinta Tanah Air Pasca Insiden Penjarahan

Potensi Korupsi dalam Program MBG

Meskipun Yeka mengakui bahwa secara sistem, program MBG sulit untuk dikorupsi, ia menyatakan bahwa penyimpangan potensi tetap ada, khususnya terkait pengadaan bahan baku.

Ia menyarankan agar pemerintah meningkatkan transparansi dan sistem pengawasan terkait harga bahan baku yang digunakan dalam program ini.

"Makanya pengawasan itu merupakan sebuah keniscayaan," ungkapnya, menekankan bahwa infrastruktur pengawasan memainkan peranan penting dalam menjaga integritas program MBG.

Masalah Verifikasi Harga Bahan Baku

Yeka juga mencatat masalah verifikasi harga bahan baku, yang sering kali tidak dapat dipastikan akurasinya.

Ia menyoroti contoh harga telur yang seharusnya sesuai harga pasar, tetapi sulit dibuktikan di lapangan, menimbulkan pertanyaan tentang keakuratan laporan harga.

"Pertanyaan saya: siapa yang bisa menjamin bahwa dia benar-benar beli dengan harga Rp 30.000?" tanyanya, menunjukkan bahwa kuitansi sering kali tidak menjamin kebenaran harga yang tercatat.

Baca juga: Pentingnya Sarapan Sehat untuk Petinju

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Sorotan Ombudsman Terhadap Program Makan Bergizi Gratis: Penyajian hingga Transparansi Bahan Baku

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!