Menengok Fenomena Toxic Positivity dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah 'toxic positivity' semakin sering terdengar di kalangan masyarakat. Fenomena ini menjelaskan bagaimana optimisme yang berlebihan bisa menimbulkan dampak negatif bagi individu.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Mulai Berlangsung
Presure untuk selalu merasa positif sering kali mengabaikan kenyataan bahwa terkadang, perasaan negatif juga perlu diterima. Hal ini memunculkan sejumlah tantangan dalam interaksi sosial dan kesejahteraan mental.
Toxic positivity adalah sikap yang menekankan bahwa kita harus selalu berpikir positif, terlepas dari realitas yang ada. Ungkapan seperti 'Cobalah untuk tetap positif!' sering kali muncul dalam berbagai konteks, mulai dari interaksi pribadi hingga platform media sosial.
Meskipun niatnya baik, fenomena ini dapat menciptakan tekanan sosial yang membuat individu merasa terasing. Dalam situasi sulit, mencari dorongan untuk bersikap positif sering kali membuat perasaan kesedihan atau ketidakpuasan terasa tidak dapat diungkapkan.
Baca juga: Revolusi Keguguran: Kecerdasan Buatan Meningkatkan Perawatan Kesehatan Perempuan
Meski didorong oleh niat baik, toxic positivity dapat menambah beban emosional bagi seseorang. Ketika menghadapi kesulitan, saran untuk berpikir positif justru sering membuat orang merasa diabaikan.
Lisa Williams dalam studi terbarunya mengungkapkan bahwa individu yang terjebak dalam pola pikir ini cenderung mengalami perasaan kesepian. Mereka merasa tertekan untuk tidak mengekspresikan kesedihan, yang padahal adalah bagian alami dari kehidupan.
Mengakui dan menerima semua emosi yang muncul, baik positif maupun negatif, adalah langkah penting. Menghadapi perasaan sulit dengan cara yang sehat akan membantu proses penyembuhan dan pertumbuhan pribadi.
Pendekatan yang lebih empatik dalam berbicara dengan diri sendiri dan orang lain jauh lebih membantu. Daripada mengucapkan, 'Semuanya akan baik-baik saja', lebih bermanfaat untuk mengatakan, 'Ini terasa sulit, tetapi kita bisa melewati ini bersama-sama.'
Baca juga: Pentingnya Sarapan Sehat untuk Petinju
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: