Krisis Kesehatan Global: Penyakit Ginjal Kronis di Ambang Batas
Dunia kini berhadapan dengan masalah serius terkait penyakit ginjal kronis yang sering terabaikan. Angka terbaru menunjukkan, pada tahun 2023, sebanyak 788 juta orang dewasa terpengaruh oleh kondisi ini.
Baca juga: Deddy Desta Nyatakan Tuntutan 17+8 dan Pesan untuk Prabowo
Penyakit ginjal kronis kini menduduki peringkat kesembilan sebagai penyebab kematian tertinggi, dengan merenggut nyawa sekitar 1,5 juta orang di tahun ini. Ironisnya, lebih dari separuh penderita tidak menyadari bahwa ginjal mereka dalam kondisi kritis.
Riset terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa kasus gagal ginjal meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup modern. Di banyak kasus, penderita berada di stadium awal yang tidak menunjukkan gejala jelas, sehingga mereka mungkin tidak menyadari kerusakan yang terjadi pada ginjal.
IHME mengidentifikasi beberapa faktor risiko utama, termasuk gula darah puasa yang tinggi, kegemukan, dan hipertensi. Meskipun diabetes dan hipertensi adalah penyebab utama, pola makan yang buruk, lingkungan, serta faktor sosial ekonomi juga berkontribusi terhadap peningkatan kejadian penyakit ginjal kronis.
Di wilayah tertentu, seperti Amerika Tengah, fenomena gagal ginjal misterius atau CKD of Unknown Etiology (CKDu) juga meningkat. Kasus ini sering dialami oleh pekerja yang terpapar panas ekstrem dan dehidrasi, menambah perhatian terhadap dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya
Krisis gagal ginjal ini diperburuk oleh ketimpangan dalam akses layanan kesehatan. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalami beban CKD yang tinggi, namun akses terhadap perawatan seperti dialisis dan transplantasi ginjal sangat terbatas.
Sebaliknya, negara maju, meskipun memiliki prevalensi CKD yang lebih rendah, memiliki akses yang lebih baik terhadap terapi pengganti ginjal. Ketidaksetaraan ini mengakibatkan angka kematian akibat CKD tetap tinggi di negara-negara miskin, karena banyak pasien tidak mendapatkan pengobatan yang diperlukan.
IHME juga menunjukkan bahwa kerusakan ginjal memiliki dampak yang lebih besar daripada dugaan sebelumnya. Pada tahun 2023, disfungsi ginjal menyumbang 11,5% dari kematian akibat penyakit jantung secara global, menandakan adanya keterkaitan erat antara CKD dan kematian kardiovaskular.
IHME menekankan bahwa deteksi dini adalah kunci dalam memerangi CKD. Walaupun negara-negara kaya memiliki fasilitas kesehatan yang lebih baik, skrining untuk mendeteksi risiko CKD masih sangat jarang dilakukan.
Peneliti berharap agar temuan ini dapat memotivasi pengambil kebijakan untuk memberi perhatian lebih pada CKD dalam agenda kesehatan publik. Akses terhadap pengobatan yang efektif perlu diperluas agar dapat memperlambat kerusakan ginjal dan mencegah komplikasi jantung.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan CKD sebagai penyakit tidak menular yang menjadi prioritas global, menandakan perlunya perhatian lebih terhadap penyakit ini, sebanding dengan kanker dan diabetes.
Baca juga: Cara Menunjukkan Cinta kepada Pasangan Melalui Tindakan Kecil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: