Risiko Skizofrenia dan Kucing: Apa yang Ditemukan Penelitian Terbaru?
Para peneliti dari Pusat Penelitian Kesehatan Mental Queensland, Australia, baru-baru ini menganalisis 17 studi mengenai hubungan antara kepemilikan kucing dan risiko skizofrenia.
Baca juga: Microsoft Luncurkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word dan Aplikasi Lain
Penelitian ini mengungkapkan potensi keterkaitan yang memerlukan perhatian lebih lanjut karena melibatkan data dari 11 negara selama 44 tahun.
Gagasan bahwa kepemilikan kucing dapat meningkatkan risiko skizofrenia pertama kali muncul dalam penelitian tahun 1995, di mana parasit Toxoplasma gondii dianggap sebagai faktor penyebab.
Penelitian tersebut menyarankan bahwa infeksi oleh parasit ini, yang dapat didapatkan dari daging yang kurang matang atau feses kucing, mungkin berkaitan dengan perkembangan gangguan mental.
Namun, studi lanjutan menunjukkan beragam kesimpulan. Sebagai contoh, penelitian yang dipublikasikan oleh Cureus pada tahun 2022 mencatat bahwa berada di sekitar kucing selama masa kanak-kanak bisa meningkatkan risiko gangguan ini.
Di sisi lain, sebuah studi dari jurnal Plos One tahun 2019 tidak menemukan hubungan signifikan antara memelihara kucing dan risiko skizofrenia.
Toxoplasma gondii adalah parasit yang menginfeksi sekitar 40 juta orang di Amerika Serikat, menular melalui daging mentah atau feses kucing yang terinfeksi.
Baca juga: Cara Menunjukkan Cinta kepada Pasangan Melalui Tindakan Kecil
Setelah masuk ke dalam tubuh, T. gondii dapat mempengaruhi neurotransmiter di sistem saraf pusat, yang berpotensi menimbulkan perubahan kepribadian serta gejala psikotik yang terkait dengan skizofrenia.
Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa belum ada bukti yang solid bahwa infeksi ini disebabkan oleh kucing, atau secara langsung menyebabkan gangguan mental.
Hal ini menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk menentukan mekanisme dan hubungan yang mungkin ada.
Sebagian besar studi yang ditinjau dalam analisis ini, tepatnya 15 dari 17, adalah studi kasus-kontrol, yang cenderung tidak mampu menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Kualitas rendah dari beberapa studi juga mengakibatkan hasil yang tidak konsisten. Misalnya, jurnal Plos One tahun 2019 menemukan hubungan signifikan hanya pada anak-anak berusia 9 hingga 12 tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: