Dokter Samira, yang dikenal sebagai Dokter Detektif, mengajukan tuduhan serius terhadap pengusaha skincare Richard Lee. Tuduhan ini melibatkan dugaan pengemplangan pajak kendaraan mewah dan penggunaan gelar akademik yang meragukan.
Baca juga: Makanan Kaya Vitamin C untuk Daya Tahan Tubuh yang Optimal
Dalam sesi jumpa pers di Jakarta Pusat, ia menyoroti berbagai kejanggalan terkait pelat nomor kendaraan serta waktu perolehan gelar PhD yang dianggap tidak biasa.
Dalam jumpa pers yang berlangsung pada Rabu (7/1/2026), Dokter Samira mengungkapkan bahwa Rolls Royce yang dipamerkan oleh Richard Lee di media sosial menggunakan pelat nomor sementara yang tidak terdaftar.
"Rolls Royce yang dia gembar-gemborkan, dia flexing di medsos, dengan pelat D 1533 QGK. Pelat itu tidak pernah terdaftar. Itu adalah nomor pelat sementara, bertahun-tahun," ujar Dokter Samira.
Ia menegaskan bahwa penggunaan pelat sementara tersebut diduga bertujuan untuk menghindari kewajiban pajak kendaraan bermotor, yang dianggap melanggar hukum.
"Dia menggunakan pelat itu untuk apa? Dugaannya Dokter Samira untuk ngemplang pajak. Dan apa yang dia lakukan manusia ini? Dengan tenangnya dia mengangkangi Samsat Bandung," lanjutnya.
Dokter Samira menyampaikan ketidakpuasannya terhadap respons pemerintah yang dianggap kurang tegas dalam menegakkan aturan pajak bagi kendaraan mewah.
Baca juga: Olahraga Low Impact: Pilihan Ideal untuk Pemula
"Inilah manusia kebal hukum. Ya, Dokter Samira percaya. Dan Dokter Samira minta pemerintah benar-benar hadir. Mobil Rolls Royce dengan pajak ratusan juta, kenapa dilepaskan?" ungkapnya.
Ia membandingkan antara perlakuan terhadap pajak mobil biasa dan kendaraan mewah, menganggap bahwa ketidakadilan terjadi.
"Sementara pajak mobil yang hanya Agya, brand yang lain, yang hanya Rp100 jutaan, kan kita bayar. Kenapa puluhan miliar kok dilepaskan? Di mana keadilannya? Dokter Samira minta keadilan aja kok," tegasnya.
Selain isu pajak, Dokter Samira juga menyoroti penggunaan gelar PhD oleh Richard Lee yang dianggap janggal karena diperoleh dalam waktu yang sangat singkat, yakni hanya 1,5 tahun.
"Bagaimana perasaan teman-teman kita yang mendapatkan gelar PhD dengan susah payah, minimal 3,5 tahun? Apa yang dia lakukan? Petantang-petenteng dia masih menggunakan gelar PhD," kata Dokter Samira.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: