Menguji Teori Baru: Apakah Badai Matahari Dapat Picu Gempa Bumi?
Sebuah studi yang baru saja diterbitkan dalam International Journal of Plasma Environmental Science mengklaim bahwa badai Matahari mungkin memiliki kaitan dengan terjadinya gempa bumi.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Terbaru dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Pendingin Canggih
Penelitian ini mempertimbangkan dampak perubahan di ionosfer yang bisa memengaruhi kondisi di zona patahan yang sudah predisposisi.
Dalam studi ini, peneliti mengungkapkan bahwa badai Matahari bisa mengganggu ionosfer, lapisan atmosfer yang terisi partikel bermuatan listrik.
Gangguan tersebut diperkirakan dapat berimbas pada stabilitas garis patahan, tempat kemungkinan gempa bumi terjadi.
Penelitian ini mencatat bahwa perubahan dalam ionosfer dapat meningkatkan gaya listrik di dalam lapisan kerak Bumi.
Jika hubungan ini berhasil dibuktikan secara ilmiah, maka paradigma yang ada mengenai risiko gempa bumi akan beralih, mempertimbangkan faktor yang selama ini diabaikan.
Namun, temuan ini tidak disetujui oleh semua ilmuwan. Beberapa peneliti mengkritik bahwa model yang digunakan dalam studi ini terlalu disederhanakan.
Baca juga: WhatsApp Perbaiki Celah Keamanan Serius untuk Pengguna Apple
Victor Novikov, seorang geofisikawan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, berpendapat bahwa pengamatan yang ada tidak mendukung hipotesis yang diajukan dalam penelitian tersebut.
Ia mencatat bahwa model yang diterapkan tidak mencerminkan resistansi lapisan batuan yang dapat menahan medan listrik.
Kritik semacam ini menunjukkan perlunya keterbukaan dalam menyikapi klaim-klaim yang kontroversial.
Studi ini berupaya menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas letusan matahari dan gempa bumi tertentu.
Contohnya, gempa yang terjadi di Semenanjung Noto pada 2024, bertepatan dengan periode aktivitas letusan matahari yang tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: