BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Senin, 09 MARET 2026 • 16:01 WIB

Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Mental pada Anak di Indonesia

Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Mental pada Anak di IndonesiaPentingnya Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Mental pada Anak di Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa lebih dari 700 ribu anak mengalami gejala gangguan kesehatan mental. Temuan ini berasal dari skrining awal program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilakukan pada sekitar 7 juta anak di seluruh negeri.

Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Catat Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menekankan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan deteksi masalah kesehatan jiwa pada anak, yang menunjukkan bahwa hampir 10% dari mereka yang menjalani skrining memiliki gejala gangguan mental.

Data Skrining dan Temuan Gejala Kesehatan Mental

Dari hasil awal program Cek Kesehatan Gratis, tercatat bahwa 4,4% anak mengalami gangguan kecemasan, sedangkan 4,8% lainnya menunjukkan gejala depresi. Angka ini menyoroti pentingnya perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan mental anak di Indonesia.

Menteri Budi mengungkapkan bahwa jenis gangguan kesehatan mental pada anak cukup bervariasi, namun kecemasan dan depresi tetap merupakan masalah yang paling umum. 'Mental disorder tuh banyak deh macam-macam,' ujarnya.

Ia menambahkan bahwa banyak kasus kesehatan jiwa pada anak tidak terdeteksi sebelumnya, disebabkan rendahnya tingkat skrining. Dengan hasil ini, diharapkan publik lebih menyadari isu kesehatan mental anak.

Baca juga: Peluncuran Realme Chill Fan Phone: Inovasi Baterai Jumbo dan Teknologi Pendingin Canggih

Tren Peningkatan Pikiran Bunuh Diri di Kalangan Remaja

Kementerian Kesehatan juga mencatat adanya peningkatan signifikan dalam persentase remaja yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Data menunjukkan angka tersebut meningkat dari 5,4% menjadi 8,5%, sementara yang mencoba bunuh diri berkembang dari 3,9% menjadi 10,7%.

Menurut Budi, berbagai faktor berkontribusi terhadap kondisi ini, termasuk tekanan dari lingkungan keluarga dan sosial. 'Yang nomor satu, surprisingly bukan dari psikologi anaknya tapi dari keluarganya,' jelasnya.

Budi juga menyoroti masalah perundungan di sekolah dan tekanan akademik sebagai penyebab utama yang memicu gangguan kesehatan mental di kalangan anak-anak dan remaja.

Inisiatif Kementerian Kesehatan untuk Menghadapi Masalah Ini

Sebagai tindakan respons terhadap temuan ini, Kemenkes merencanakan perluasan skrining kesehatan mental di sekolah-sekolah. 'Mudah-mudahan dari 7 juta bisa naik 14 juta terus 25 juta,' harap Budi, berupaya untuk deteksi masalah kesehatan jiwa sejak dini.

Selain itu, pemerintah akan menyediakan layanan bantuan darurat untuk anak-anak yang mengalami tekanan psikologis. Layanan ini bertujuan menawarkan dukungan dan penanganan yang cepat dan efektif.

Hotline kesehatan yang melayani konseling krisis juga akan disediakan, di mana anak-anak yang merasa tertekan atau memiliki niatan bunuh diri dapat menghubungi untuk mendapatkan bantuan langsung. 'Ada Healing 119 ini kayak call center-nya kita,' tambah Budi.

Baca juga: Aksi Nekat Pria di Atas Kereta Commuterline Viral di Media Sosial

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Mental pada Anak di Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!