Fenomena burnout di kalangan anak muda semakin menjadi isu serius belakangan ini. Banyak yang merasa kehabisan tenaga dan motivasi, meski usia mereka masih muda.
Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Perlu Perlakuaan Istimewa di DPR
Tekanan dari lingkungan kerja dan sosial membuat mereka merasa terjebak. Ini penting untuk dijabarkan agar kita bisa memahami penyebab dan tanda-tanda burnout dengan lebih baik.
Tekanan dari Lingkungan Sosial
Anak muda saat ini hidup di era media sosial yang memunculkan banyak ekspektasi. Mereka merasa harus selalu tampil sempurna, baik dalam karir maupun kehidupan pribadi.
Tekanan dari media sosial sering kali mengakibatkan stres berkepanjangan dan, pada akhirnya, burnout. Penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat memperparah kondisi mental mereka.
Faktanya, survei terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 50% remaja merasa tertekan akibat perbandingan sosial di platform digital. Hal ini memberi kontribusi besar pada kesehatan mental yang menurun.
Baca juga: Apple Persiapkan Peluncuran iPhone 17 Series dengan Teknologi eSIM Tanpa Slot SIM Tray
Tuntutan di Dunia Kerja
Mencari pekerjaan yang ideal kini semakin sulit, dan banyak anak muda yang terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai passion. Tuntutan untuk berprestasi dan mencapai target dalam waktu singkat menjadi beban berat.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik, sekitar 40% pekerja muda mengalami tekanan mental terkait pekerjaan. Kondisi ini diperparah dengan jam kerja yang panjang dan kurangnya waktu untuk istirahat.
Beberapa perusahaan memang mulai menjunjung tinggi kesejahteraan karyawan, namun masih ada yang mengabaikan pentingnya waktu istirahat dan keseimbangan kerja.
Kurangnya Dukungan Mental
Dukungan dari lingkungan sekitar, seperti teman dan keluarga, sangat dibutuhkan oleh anak muda untuk menghadapi tekanan. Namun, banyak dari mereka merasa kesepian dalam perjuangan ini.
Penting untuk menyadari bahwa berbicara tentang kesehatan mental bukan lagi hal yang tabu. Sayangnya, stigma yang ada seringkali membuat anak muda ragu untuk mencari bantuan.
Data menunjukkan bahwa hanya 30% remaja yang merasa nyaman untuk membahas masalah mental mereka dengan orang terdekat. Ini menunjukkan masih ada pekerjaan yang harus dilakukan dalam menciptakan lingkungan yang lebih mendukung.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan Sehari-hari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: