Lebih dari 80 persen penderita tuberkulosis (TB) ternyata tidak mengalami batuk menetap, yang selama ini dianggap sebagai tanda utama penyakit ini.
Baca juga: Waspadai Gula Tersembunyi dalam Makanan Sehari-hari
Penelitian terbaru dari Amsterdam UMC menyoroti betapa banyaknya pasien TB tanpa gejala tersebut, yang dapat mempengaruhi penanganan dan penularan penyakit ini.
Temuan Penelitian dan Dampaknya
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases, menganalisis data dari lebih 600 ribu orang di Afrika dan Asia.
Studi ini mencatat bahwa 62,5 persen pasien tidak mengalami batuk sama sekali, yang dapat menimbulkan gambaran mengkhawatirkan mengenai potensi penularan penyakit ini.
Baca juga: KPop Demon Hunters, Fenomena Baru di Netflix
Kesenjangan dalam Diagnosa dan Penanganan
Frank Cobelens, Profesor Kesehatan Global di Amsterdam UMC, menjelaskan, "Hasil kami menunjukkan alasan mengapa, meskipun upaya besar untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit ini, beban TB di Afrika dan Asia hampir tidak menurun."
Ia juga mencatat adanya perbedaan signifikan antara 10,6 juta orang yang terinfeksi TB dibandingkan dengan hanya 7,5 juta kasus yang tercatat oleh otoritas kesehatan pada tahun 2022.
Kebutuhan untuk Pendekatan Baru dalam Skrining
Cobelens menegaskan bahwa ketergantungan pada gejala batuk untuk mendeteksi penyakit merupakan masalah besar. Ia berkata, "Batuk yang menetap sering menjadi pintu masuk diagnosis, tetapi jika 80 persen penderita TB tidak mengalaminya, diagnosis akan terjadi lebih lambat."
Hal ini berarti banyak pasien TB mungkin tidak terdiagnosis sama sekali, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan penularan penyakit berlangsung tanpa terdeteksi.
Baca juga: Menikmati Keindahan Sunset di Destinasi Terbaik Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: