Alzheimer menjadi sorotan utama di Indonesia, dengan lebih dari 4,2 juta penduduk terdiagnosis penyakit ini, menurut data Kementerian Kesehatan.
Baca juga: Makanan Kaya Vitamin C untuk Daya Tahan Tubuh yang Optimal
Penurunan fungsi kognitif yang ditimbulkan Alzheimer menunjukkan tantangan kesehatan yang signifikan terutama di tengah populasi lansia yang terus meningkat.
Risiko dan Gejala Alzheimer
Penyakit Alzheimer sering disebabkan oleh kerusakan pada jaringan otak yang mengganggu penghantaran sinyal saraf. Proses berpikir yang melambat dapat memengaruhi kualitas hidup individu secara signifikan.
DR. dr. Probosuseno, Sp.PD-KGer(K) dari UGM, mengidentifikasi 15 faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena Alzheimer. Beberapa di antaranya mencakup diabetes, hipertensi, gangguan pendengaran, dan kurangnya aktivitas fisik.
Ia menekankan bahwa meskipun faktor-faktor tersebut tidak menjamin seseorang akan mengidap Alzheimer, perhatian terhadap risiko ini sangat penting dalam upaya pencegahan demensia.
Baca juga: KPop Demon Hunters, Fenomena Baru di Netflix
Pentingnya Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik dianggap sebagai salah satu cara paling efektif untuk menunda timbulnya Alzheimer. Berjalan kaki selama 30 menit setiap hari dapat memberikan dampak positif yang besar pada kesehatan otak.
DR. Probo merekomendasikan target langkah harian antara 3.000 hingga 5.000 langkah untuk lansia, serta 5.000 hingga 7.000 langkah untuk individu yang lebih muda. Aktivitas ini sebaiknya dapat dicicil sepanjang hari.
Waktu ideal untuk beraktivitas fisik adalah antara pukul 07.00 hingga 10.00, ketika paparan sinar matahari berkontribusi terhadap perbaikan suasana hati dan kualitas tidur.
Metode Pencegahan 'MAS OK'
Sebagai langkah pencegahan, DR. Probo memperkenalkan metode 'MAS OK', yang terdiri dari kebiasaan membaca, keterlibatan dalam kegiatan spiritual, serta aktivitas seni dan sosial. Metode ini tidak hanya merangsang otak tetapi juga mendukung kesehatan mental.
Ia juga menjelaskan pola hidup sehat yang dikenal dengan rumus 'OK', mencakup pengobatan rutin, kontrol kesehatan, dan interaksi sosial yang konsisten. Pendekatan ini mengedepankan kesejahteraan hidup secara keseluruhan.
Baca juga: Mengenali Gejala Awal Serangan Jantung untuk Pencegahan yang Lebih Baik
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: