Jumat, 05 DESEMBER 2025 • 21:33 WIB

Fenomena 'Brain Rot' di Kalangan Generasi Z dan Dampaknya

Author

Fenomena 'Brain Rot' di Kalangan Generasi Z dan Dampaknya

Fenomena 'brain rot' kini menjadi sorotan di seluruh dunia, terutama di kalangan Generasi Z yang tumbuh di tengah kecanggihan teknologi. Istilah ini mencerminkan penurunan fungsi mental akibat kebiasaan buruk dalam menggunakan media sosial.

Baca juga: Kementerian Perindustrian: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diajukan

Generasi Z rata-rata menghabiskan lebih dari enam jam sehari untuk scrolling di platform seperti TikTok dan Instagram. Hal ini mengundang perhatian para ahli kesehatan mental yang khawatir akan dampak jangka panjangnya.

Kondisi Otak dan Dampak Media Sosial

Paparan informasi yang cepat dan berlebihan dapat berkontribusi pada penurunan daya ingat dan fungsi kognitif pada Generasi Z. Studi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berhubungan dengan penurunan kemampuan berpikir kritis, yang penting bagi perkembangan usia muda.

Earl Miller, seorang ahli saraf kognitif dari MIT, mengungkapkan bahwa 'Brain rot bukan berarti otak kita benar-benar membusuk. Masalahnya, otak kita tidak dirancang menghadapi arus informasi tanpa henti seperti ini.' Pernyataan ini menyoroti pentingnya interaksi nyata di dunia yang belakangan ini sangat terhubung secara digital.

Penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association menunjukkan bahwa kecanduan video pendek berpotensi mengakibatkan 'penuaan otak dini' pada individu berusia 18 hingga 29 tahun. Amanda Elton dari University of Florida juga berpendapat bahwa istilah 'accelerated brain aging' lebih tepat untuk menggambarkan kondisi ini.

Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Perlu Perlakuaan Istimewa di DPR

Inisiatif untuk Mencegah 'Brain Rot'

Di tengah kekhawatiran yang berkembang tentang fenomena ini, beberapa tren telah muncul di kalangan Generasi Z. Salah satunya adalah penciptaan 'kurikulum bulanan' oleh content creator TikTok, Elizabeth Jean, dengan daftar bacaan dan kegiatan mendidik sebagai langkah positif untuk meningkatkan pengetahuan.

Selain itu, gerakan untuk 'lepas ponsel' saat di rumah juga tengah mendapatkan perhatian. Hal ini bertujuan untuk menciptakan ruang bagi kegiatan sosial yang lebih bermakna, di mana interaksi tatap muka dianggap lebih penting.

Konsep lainnya yang menarik perhatian adalah 'dopamine menu', yang menawarkan alternatif positif untuk mendapatkan kebahagiaan tanpa ketergantungan pada gadget. Aplikasi seperti Brick dan Focus Friend juga semakin populer sebagai upaya detoks digital, yang menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan fokus dan produktivitas penggunanya.

Pentingnya Waktu Jauh dari Layar

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa interaksi sosial secara langsung memiliki peranan penting dalam menjaga fungsi otak yang optimal. Menghindari multitasking digital dapat mengurangi risiko penurunan memori serta kemampuan pengambilan keputusan.

Aktivitas offline seperti bermain game, membaca, dan menulis jurnal terbukti efektif dalam meningkatkan kesehatan mental. Gary Small dari Hackensack Meridian School of Medicine menyatakan, 'Semakin cepat seseorang melindungi kesehatan otaknya, maka hasil baiknya dapat berjangka panjang.'

Generasi Z terbukti mempunyai ketergantungan terhadap media digital sambil tetap vokal dalam menciptakan solusi inovatif. Upaya mereka menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mental adalah langkah krusial dalam dunia yang sangat terhubung ini.

Baca juga: Cara Menunjukkan Cinta kepada Pasangan Melalui Tindakan Kecil

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU