Penyakit gusi sering kali dianggap sepele, namun dampaknya dapat sangat serius bagi kesehatan individu. Fenomena ini disebut sebagai 'silent killer' karena banyak orang tidak menyadari gejala yang muncul di tahap awal.
Baca juga: Meningkatkan Produktivitas Melalui Fengshui Meja Kerja
Dalam forum kesehatan yang diadakan oleh Unilever Indonesia, para ahli mengingatkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap masalah ini. Ikhtisar ini mengungkap dampak kesehatan dan ekonomi akibat penyakit gusi yang harus diwaspadai.
Persepsi dan Statistik Mengenai Penyakit Gusi
Penyakit gusi, yang mencakup infeksi seperti periodontitis, menjadi perhatian serius. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PBPDGI), drg. Usman Sumantri, M.Sc., menyatakan bahwa penyakit ini mengancam kesehatan gigi dan mulut masyarakat.
Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 melaporkan bahwa terdapat 74,1 kasus periodontitis di Indonesia. Ini adalah penyakit inflamasi akibat infeksi bakteri pada jaringan periodontal yang dapat menyebabkan kerusakan parah pada gigi.
Baca juga: Uya Kuya Terkena Imbas Penjarahan Pasca Video Joget Viral
Karakteristik Penyakit Gusi dan Dampaknya
Gejala awal gingivitis sering kali tidak terlihat dan tidak menimbulkan rasa sakit, kata Prof. Dr. Amaliya, guru besar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Hal ini berkontribusi pada penyebaran penyakit gusi di kalangan masyarakat.
Kesadaran terhadap tanda-tanda awal penyakit gusi menjadi penting untuk mencegah konsekuensi lebih lanjut. Menurut dr. Elvieda Sariwati, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kemenkes RI, masalah gigi dan gusi berada di antara lima penyakit paling umum yang diderita peserta program cek kesehatan gratis.
Korban Ekonomi dan Produktivitas Terkait Penyakit Gusi
Penyakit gusi tidak hanya berpengaruh pada kesehatan individu tetapi juga memengaruhi ekonomi secara keseluruhan. drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., dari Unilever Indonesia, menjelaskan bahwa kondisi kesehatan gusi berkaitan langsung dengan produktivitas masyarakat.
World Health Organization (WHO) memprediksi bahwa 1,5 miliar orang di dunia akan mengalami masalah periodontitis pada tahun 2050. Kondisi ini diproyeksikan akan membawa dampak sosial-ekonomi yang besar, terutama di Indonesia, yang mengalami kerugian produktivitas sebesar Rp 53,3 triliun per tahun akibat masalah gigi dan mulut.
Baca juga: Cara Menunjukkan Cinta kepada Pasangan Melalui Tindakan Kecil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: