Senin, 05 JANUARI 2026 • 11:12 WIB

Mengapa Penggalian Makam Kaisar Pertama China Masih Jadi Tantangan?

Author

Mengapa Penggalian Makam Kaisar Pertama China Masih Jadi Tantangan?

Makam Kaisar Qin Shi Huang, pendiri Dinasti Qin sekaligus kaisar pertama China, belum juga diekskavasi hingga saat ini. Hal ini disebabkan oleh potensi risiko yang bisa merusak artefak berharga di dalamnya.

Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Terbaru dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Pendingin Canggih

Sejak penemuan kompleks Pasukan Terakota pada tahun 1974, para ilmuwan lebih memilih fokus pada penggalian sisa-sisa tentara daripada membuka makam sang kaisar yang menjadi pusat sejarah ini.

Sejarah Makam Kaisar Qin Shi Huang

Qin Shi Huang memerintah sebagai kaisar pertama China hingga kematiannya pada tahun 210 SM. Ia terkenal sebagai penggagas kompleks Pasukan Terakota yang terletak tidak jauh dari makamnya.

Kompleks ini terdiri dari lebih dari 8.000 patung tentara, 130 kereta, dan 520 kuda, yang diyakini akan mengawalnya di alam baka. Saat ini, sebagian besar artefak tersebut masih berada di dalam lubang dekat mausoleum, belum terungkap.

Dengan statusnya sebagai tempat bersejarah, makam ini menarik perhatian para ilmuwan. Namun, kekhawatiran akan kerusakan artefak yang berharga menghalangi keinginan untuk menggali lebih dalam.

Baca juga: Uya Kuya Terkena Imbas Penjarahan Pasca Video Joget Viral

Kekhawatiran dan Potensi Risiko

Salah satu alasan utama mengapa ilmuwan enggan melakukan penggalian adalah potensi kerusakan pada peninggalan sejarah. Pengalaman penggalian kota Troy yang mengakibatkan kehancuran menjadi pengingat pahit.

Penelitian terbaru menunjukkan adanya kandungan merkuri yang 100 kali lebih tinggi dari batas normal di sekitar situs, memunculkan dugaan adanya sungai merkuri beracun yang diciptakan oleh Qin untuk melindungi makam.

Pakar sejarah Sima Qin mengungkapkan bahwa makam ini diisi dengan artefak langka dan jebakan mematikan. "Pengrajin diminta untuk membuat busur dan panah untuk menembak siapapun yang memasuki makam," ujarnya.

Tantangan Ekskavasi

Diperkirakan, makam Qin Shi Huang berada sekitar 35 meter di bawah tanah, menjadikan proses penggalian semakin rumit. Hal ini membutuhkan sumber daya manusia yang besar dan teknik yang sangat tepat.

China belum memiliki pengalaman signifikan dalam melakukan ekskavasi pada kedalaman seperti itu. Karenanya, penggolongan ini menawarkan tantangan tersendiri bagi ilmuwan.

Saat ini, harapan terletak pada kemajuan teknologi yang dapat terjadi di masa depan untuk memungkinkan penggalian yang aman, guna menjaga kelayakan artefak yang ada.

Baca juga: Sepatu Putih: Aksesori Fashion yang Tak Lekang oleh Waktu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU