Senin, 05 JANUARI 2026 • 16:37 WIB

Strategi Serangan Siber AS Terhadap Venezuela: Pengakuan Trump di Mar-a-Lago

Author

Strategi Serangan Siber AS Terhadap Venezuela: Pengakuan Trump di Mar-a-Lago

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkap rencana dramatis untuk menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, melalui serangan siber yang ditargetkan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang mengejutkan di Mar-a-Lago, Florida.

Baca juga: Apple Persiapkan Peluncuran iPhone 17 Series dengan Teknologi eSIM Tanpa Slot SIM Tray

Trump mengungkapkan bagaimana tentara AS memadamkan listrik di Caracas, menjadikan ibu kota Venezuela dalam kegelapan total, sebagai bagian dari strategi siber yang lebih luas.

Metode Serangan Siber yang Digunakan

Dalam pengakuannya, Trump menjelaskan bahwa serangan tersebut menyebabkan pemadaman listrik massal di Caracas, mengungkapkan, "Di sana gelap, lampu di Caracas semuanya mati karena keahlian yang kami miliki."

Pernyataan ini menandai momen pertama di mana pemerintah AS secara terbuka mengakui penggunaan serangan siber untuk tujuan ofensif, yang biasanya dilakukan dengan sangat rahasia.

AS dikenal memiliki operasi siber yang canggih dan berpengaruh, dan pengakuan ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan dalam konteks geopolitik.

Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Militer AS, menjelaskan peran Komando Siber dalam menerapkan strategi ini. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai efek yang diharapkan dari serangan tersebut.

Dampak Pemadaman Listrik di Caracas

NetBlocks, sebuah grup pelacak aktivitas internet, melaporkan bahwa pemadaman listrik ini berimbas pada akses internet di Caracas, yang padam total sejak Sabtu dini hari.

Baca juga: WhatsApp Perbaiki Celah Keamanan Serius untuk Pengguna Apple

Pendiri NetBlocks, Al Toker, menegaskan bahwa pemadaman listrik disebabkan oleh serangan siber tertarget, yang mengganggu komunikasi dan kontrol operasional di Venezuela.

Venezuela sebelumnya telah mengalami serangan siber yang merugikan, termasuk yang mengganggu operasi minyak dari perusahaan migas negara, PDVSA. Situasi ini bukanlah hal baru bagi rakyat Venezuela.

Pemadaman listrik dan internet ini semakin memperburuk situasi yang telah menegangkan di negara tersebut, di mana komunikasi antar pemimpin dan masyarakat menjadi semakin sulit.

Ketegangan Politik di Kawasan Karibia

Ketegangan antara AS dan Venezuela tetap tinggi, terutama setelah penangkapan Presiden Maduro. Pejabat AS mengklaim masih ada sekitar 15.000 personel di kawasan Karibia.

Mereka juga membuka kemungkinan untuk melakukan intervensi militer lebih lanjut jika Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, tidak memenuhi tuntutan yang telah ditetapkan.

Rodríguez mempertahankan sikap defensif, meskipun banyak detil mengenai diskusi antara dia dan pejabat AS tetap tidak jelas. Trump memberikan peringatan serius kepada Rodríguez, menyatakan, "Jika dia tidak melakukan apa yang seharusnya, dia akan membayar mahal, mungkin lebih besar daripada Maduro."

Sikap menantang yang ditunjukkan oleh Rodríguez menunjukkan bahwa ketegangan ini mungkin akan terus berlanjut, mempertajam persaingan di kawasan Karibia.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan Sehari-hari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU