Fenomena kebencian anak kepada ibu kandung sering terjadi dalam dinamika keluarga, terutama saat remaja. Hubungan yang biasanya penuh kasih sayang ini kadang menciptakan emosi negatif yang mendalam.
Baca juga: Apple Persiapkan Peluncuran iPhone 17 Series dengan Teknologi eSIM Tanpa Slot SIM Tray
Anak bisa merasakan dikhianati atau tidak dipahami, yang berujung pada rasa benci. Kajian psikologis menunjukkan bahwa kompleksitas emosi ini berakar dari berbagai faktor.
Agresi Emosional dan Harapan yang Tidak Terpenuhi
Sebagai figur penting dalam hidup anak, peran ibu sering kali diharapkan dapat memenuhi semua kebutuhan emosional. Namun, ketika harapan ini tidak terpenuhi, perasaan dikhianati bisa muncul.
Sabrina Romanoff, PsyD, seorang psikolog klinis di Yeshiva University, New York City, menjelaskan bahwa 'seseorang umumnya menyimpan rasa benci terhadap ibunya saat pernah diperlakukan tidak adil, diabaikan, atau disakiti.'
Perasaan ini dapat menciptakan ketegangan antara cinta dan benci, yang merupakan bagian dari kompleksitas emosi manusia. Ketidakpuasan ini memberi jalan bagi tumbuhnya kemarahan yang dalam.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Terbaru dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Pendingin Canggih
Dinamika Ketidakpastian dalam Pola Asuh
Sikap tidak konsisten dari orang tua dapat memicu rasa benci yang mendalam. Ketika ibu sering berubah pikiran atau kurang tegas, anak bisa merasa kehilangan kemampuan untuk mempercayai sosok tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang tidak stabil dapat memicu kecemasan yang berkepanjangan. Ketidakpastian ini sering membuat anak merasa tidak diterima dan tidak dicintai, menambah perasaan negatif.
Dalam situasi seperti ini, anak mungkin berjuang dengan menjalin hubungan yang sehat, karena cinta dan benci saling bertabrakan dalam pikiran mereka.
Dampak Komunikasi dalam Hubungan Ibu dan Anak
Komunikasi adalah pilar dalam setiap hubungan, termasuk antara ibu dan anak. Ketika komunikasi terhambat, terutama jika ada kritikan dan tuntutan berlebihan, anak bisa merasa tertekan dan lebih rentan terhadap emosi negatif.
'Rasa dendam yang menumpuk sering berasal dari kemarahan yang belum terselesaikan atas pengabaian serta trauma yang terjadi selama masa kanak-kanak.'
Di samping itu, ketidakmampuan ibu untuk memberikan dukungan yang diperlukan saat anak membutuhkannya sangat memperburuk dinamika ini. Hal ini berkontribusi pada rasa tidak aman yang mendalam pada anak.
Baca juga: Manfaat Hyaluronic Acid: Solusi untuk Segala Jenis Kulit
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: