Kamis, 22 JANUARI 2026 • 11:07 WIB

Perempuan dan Migrain: Mengapa Mereka Menanggung Beban Lebih Berat?

Author

Perempuan dan Migrain: Mengapa Mereka Menanggung Beban Lebih Berat?

Sebagian besar perempuan dewasa mengalami migrain dengan durasi yang lebih lama dibandingkan laki-laki, dalam proporsi mencolok tiga kali lipat. Temuan ini berasal dari studi global yang menyelidiki lebih dari 41 ribu pasien di 18 negara.

Baca juga: Menjalin Hubungan dengan Finfluencer: Membuka Pintu Menuju Finansial yang Lebih Baik

Studi menunjukkan bahwa total waktu yang dihabiskan perempuan dalam kondisi migrain hampir dua kali lipat dibandingkan laki-laki, menjadikan dampaknya lebih signifikan dan menambah beban kesehatan mereka.

Studi Global Mengenai Migrain

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Neurology pada tahun 2025 mengungkapkan data penting tentang penderita migrain di seluruh dunia. Penelitian ini menganalisis lebih dari 41 ribu pasien dari 18 negara, termasuk Indonesia.

Dalam analisis tersebut, perempuan diketahui menghabiskan waktu hampir dua kali lebih banyak dalam kondisi migrain dibandingkan dengan laki-laki. Temuan ini mengindikasikan sebuah dampak kesehatan yang lebih besar bagi perempuan karena frekuensi dan durasi serangan yang lebih tinggi.

Baca juga: Revolusi Keguguran: Kecerdasan Buatan Meningkatkan Perawatan Kesehatan Perempuan

Gejala dan Penyebab Migrain

Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa; gejala lainnya dapat mencakup mual, muntah, kelelahan, serta kepekaan berlebih terhadap cahaya dan bau. Gejala ini sering kali memperburuk penderitaan yang dialami oleh pasien.

Beberapa faktor pemicu serangan migrain bervariasi, mulai dari genetika hingga pola makan dan gaya hidup seperti kurang tidur. Namun, hormon diperkirakan menjadi faktor signifikan yang menjelaskan mengapa perempuan lebih rentan terhadap migrain.

Dampak Migrain Terhadap Produktivitas

Yang menarik, kekurangan penelitian yang berfokus pada perempuan menciptakan kesenjangan besar dalam pemahaman kesehatan ini. Stigma yang menganggap migrain sebagai masalah psikologis membuat banyak penderitaan yang dialami perempuan terabaikan.

Migrain juga dikenal sebagai salah satu penyebab utama ketidakhadiran kerja, memengaruhi produktivitas secara keseluruhan. Beban ini menjadi lebih berat terutama ketika serangan migrain terjadi pada usia produktif perempuan, saat mereka sedang membangun karier dan keluarga.

Baca juga: Manfaat Hyaluronic Acid: Solusi untuk Segala Jenis Kulit

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU