Selasa, 03 FEBRUARI 2026 • 21:10 WIB

Inisiatif BRIN untuk Standarisasi Pengisian Daya Motor Listrik di Indonesia

Author

Inisiatif BRIN untuk Standarisasi Pengisian Daya Motor Listrik di Indonesia

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini sedang mengembangkan plug dan socket berstandar nasional untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai roda dua. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas sistem pengisian daya dan mempercepat penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana

Pembahasan mengenai plug dan socket untuk fast charging saat ini tengah dilakukan di Badan Standardisasi Nasional (BSN). Diharapkan dengan adanya standar ini, produsen kendaraan listrik di Indonesia dapat menerapkannya secara luas.

Tantangan Infrastruktur Pengisian Kendaraan Listrik

Eka Rakhman Priandana, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, menyatakan bahwa ketidakjelasan standar untuk plug dan socket menciptakan tantangan dalam pengembangan infrastruktur pengisian kendaraan listrik. 'Masalahnya sekarang, motor listrik merek A bisa ngecas di stasiun pengisian A, tapi belum tentu bisa di (stasiun pengisian) B atau C,' ujarnya.

Tanpa adanya standardisasi, pengguna kendaraan listrik berisiko mengalami kesulitan saat mencari stasiun pengisian. 'Pengguna akan menghadapi risiko tidak kompatibelnya kendaraan dengan stasiun pengisian yang tersedia,' ungkap Eka.

Ia juga mengidentifikasi tiga faktor yang memperlambat adopsi kendaraan listrik secara global. 'Pertama, infrastruktur pengisian itu sedikit, bukan hanya jumlahnya tetapi juga masalah koneksi internet,' jelasnya.

Perkembangan KBLBB di Indonesia

Walaupun ada tantangan, perkembangan kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia menunjukkan tren positif. Data dari Direktorat IMATAP Kementerian Perindustrian mencatat bahwa hingga akhir 2025, diperkirakan jumlah kendaraan listrik mencapai sekitar 333 ribu unit, dengan sepeda motor listrik menyumbang lebih dari 225 ribu unit.

Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Terbaru dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Pendingin Canggih

Namun, infrastruktur pengisian untuk kendaraan roda dua masih belum berkembang sepenuhnya. Kebijakan saat ini lebih condong ke penukaran baterai melalui Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), yang mulai menemukan tantangan seiring dengan perubahan tren di kalangan konsumen.

Eka menambahkan, tren motor dengan baterai besar mulai muncul di masyarakat. 'Motor yang baterainya besar ini tidak bisa ditukar. Berat baterainya bisa 20 sampai 25 kilogram, dan itu berbahaya kalau ditukar,' ujarnya, menekankan pertimbangan keselamatan.

Standarisasi dan Pengembangan SPKLU

BRIN telah memulai pengembangan plug dan socket untuk KBLBB roda dua yang terstandarisasi nasional, yang menjadi dasar bagi pengembangan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) fast charging. Desain plug dan socket mengikuti standar internasional IEC 62196-6 dan protokol komunikasi yang ditetapkan dalam IEC 61851-25.

'Dengan menstandardisasi plug dan socket, kita bisa mengakomodasi kendaraan listrik roda dua dengan baterai tertanam,' kata Eka, menjelaskan pentingnya investasi dalam infrastruktur yang mampu mengakomodasi kebutuhan ini.

Pengembangan sistem fast charging juga berfokus pada penggunaan komponen lokal. 'Karena kontrolernya kami bikin sendiri, TKDN-nya bisa tinggi. Yang impor hanya power converter-nya,' tegasnya.

BRIN menjalin kerja sama dengan PT Volex Indonesia untuk memastikan proses desain dan produksi plug dan socket yang sesuai dengan kebutuhan industri, agar produk ini siap untuk diproduksi masal. 'Harapannya, plug dan socket ini bisa diwajibkan untuk KBLBB roda dua dan kita usulkan ke IEC sebagai standar internasional,' tutup Eka.

Baca juga: Mengungkap Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental dan Emosional

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU