Menjalani Ramadan di luar angkasa adalah pengalaman unik bagi para astronaut. Mereka menghadapi tantangan khusus untuk menentukan waktu puasa yang berbeda dari di Bumi.
Baca juga: Apple Persiapkan Peluncuran iPhone 17 Series dengan Teknologi eSIM Tanpa Slot SIM Tray
Di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), siklus siang dan malam berlangsung lebih intens, sehingga memerlukan penyesuaian dalam menjalankan ibadah Ramadan.
Siklus Waktu yang Berbeda di Luar Angkasa
Astronaut yang berada di ISS mengelilingi Bumi sekitar 16 kali dalam sehari. Hal ini menyebabkan mereka melihat matahari terbit dan terbenam hingga 16 kali dalam 24 jam.
Kondisi ekstrem ini membuat penentuan waktu imsak dan berbuka puasa tidak bisa menggunakan cara konvensional yang berlaku di Bumi.
Berbeda dengan siang dan malam di Bumi yang relatif stabil, di luar angkasa, pemahaman waktu menjadi kompleks dan sering kali tidak relevan untuk ibadah.
Cara Menentukan Waktu Puasa
Untuk menyiasati tantangan tersebut, astronaut Muslim biasanya merujuk pada waktu tertentu di Bumi untuk menentukan waktu puasa.
Beberapa pendekatan yang digunakan antara lain mengikuti waktu berdasarkan negara asal atau lokasi peluncuran. Ini membantu menjaga keteraturan ibadah.
Baca juga: Mengungkap Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental dan Emosional
Dalam situasi tertentu, ada panduan yang memungkinkan astronaut untuk tidak berpuasa selama misi dan menggantinya setelah kembali ke Bumi sesuai peraturan agama.
Tantangan Berpuasa di Ruang Angkasa
Tantangan lainnya berasal dari konsumsi makanan yang telah dirancang khusus untuk memenuhi gizi di lingkungan tanpa gravitasi.
Makanan yang tersedia bagi astronaut di ISS sudah disesuaikan dengan kebutuhan energi dan kesehatan mereka, meski harus berpuasa.
Keterampilan perencanaan menjadi penting agar kebutuhan energi tetap terpenuhi selama Ramadan, jika situasi memungkinkan.
Menjaga Ibadah dan Koneksi Spiritual
Meski berada jauh dari Bumi, astronaut tetap berusaha menjaga ibadah mereka selama bulan suci ini. Salat dan refleksi spiritual dilakukan sesuai kemampuan.
Komunikasi dengan keluarga melalui video call menjadi salah satu cara untuk menjaga koneksi emosional selama Ramadan.
Pengalaman ini membuktikan bahwa yang terpenting dalam Ramadan adalah niat dan usaha ibadah di situasi apapun.
Baca juga: Pentingnya Rutin Minum Obat Cacing Bagi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: