Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya kasus kematian akibat infeksi virus Nipah di Bangladesh, yang memicu respons cepat dari negara-negara Asia.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam di Perkotaan
Dalam upaya pencegahan, negara-negara seperti Indonesia dan Singapura kini meningkatkan pengawasan kesehatan di bandara untuk menghentikan potensi penyebaran virus.
Kasus Virus Nipah di Bangladesh
WHO mengonfirmasi bahwa seorang wanita berusia 40 hingga 50 tahun meninggal dunia akibat infeksi virus Nipah setelah menunjukkan gejala serius pada 21 Januari.
Pihak berwenang setempat menyebutkan bahwa 35 orang yang memiliki kontak langsung dengan pasien saat ini sedang dipantau.
Gejala yang muncul termasuk demam, sakit kepala, dan gejala neurologis lanjutan, meskipun pasien tidak memiliki riwayat perjalanan yang mencurigakan.
Terungkap bahwa pasien sempat mengonsumsi getah pohon kurma mentah sebelum terinfeksi, dan sehari setelah kematiannya, hasil tes menunjukkan ia positif terinfeksi virus Nipah.
Tindakan Negara-Negara Asia
Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Pakistan segera meningkatkan pemeriksaan suhu di bandara sebagai langkah pencegahan.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Terbaru dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Pendingin Canggih
Di Singapura, para pekerja migran yang datang dari Benggala Barat diwajibkan untuk menjalani pemeriksaan suhu harian serta memantau gejala selama 14 hari.
Langkah-langkah ini diambil untuk mencegah potensi wabah yang lebih meluas, meskipun risiko penularan antar manusia dinilai relatif rendah.
Otoritas kesehatan menyatakan bahwa pencegahan yang dilakukan lebih awal sangat penting dalam mengatasi potensi penyebaran virus.
Karakteristik Virus Nipah
Virus Nipah merupakan patogen berisiko tinggi dengan angka kematian mencapai 75 persen bagi yang terinfeksi, menjadikannya sebagai mimpi buruk untuk kesehatan masyarakat.
WHO menekankan bahwa sampai saat ini belum ada vaksin atau pengobatan yang efektif untuk virus ini, menambah kekhawatiran atas potensi infeksi yang lebih luas.
Virus ini seringkali terkait dengan kontak langsung dengan kelelawar atau konsumsi makanan yang terkontaminasi, yang menjadi tantangan bagi pengendalian penyebarannya.
Mereka yang selamat dari infeksi juga dapat mengalami efek jangka panjang, termasuk kejang dan perubahan perilaku, yang memperumit penanganan kasus-kasus yang muncul.
Baca juga: Uya Kuya Terkena Imbas Penjarahan Pasca Video Joget Viral
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: