Belakangan ini, masyarakat dihebohkan oleh pengakuan seorang wanita yang mengalami kecemasan saat mendengar lagu tertentu di tempat umum.
Baca juga: Kementerian Perindustrian: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diajukan
Fenomena tersebut mengungkapkan hubungan kompleks antara musik dan kesehatan mental, terutama dalam konteks trauma emosional.
Mengapa Lagu Bisa Memicu Kecemasan?
Musik memiliki kekuatan untuk memicu kecemasan karena otak menyimpan memori tidak hanya sebagai informasi, tetapi juga sebagai emosi dan sensasi. Amigdala, yang berfungsi dalam mengenali ancaman, dapat bereaksi cepat terhadap musik tertentu yang mengingatkan pada pengalaman traumatis sebelumnya.
Ketika lagu tertentu diputar, otak mengaktifkan respons 'fight-or-flight', membuat tubuh bereaksi seolah-olah ada bahaya yang nyata. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan riwayat trauma atau PTSD sering merespon audio dengan stres dan gejala kecemasan, seperti jantung berdebar dan napas pendek.
Dalam jurnal Frontiers in Psychology dan Frontiers in Psychiatry, ditemukan bahwa teknik grounding—seperti fokus pada napas atau objek di sekitar—dapat membantu meredakan kecemasan saat menghadapi pemicu. Ini menunjukkan bahwa reaksi terhadap musik tidak seragam, melainkan sangat individual.
Baca juga: Sri Mulyani Serukan Cinta Tanah Air Pasca Insiden Penjarahan
Peran Lingkungan dalam Trauma
Lingkungan sekitar memainkan peran penting dalam proses pemulihan dari trauma. Respons dari keluarga dan teman bisa mempengaruhi sejauh mana seseorang merasa aman atau semakin tertekan menghadapi trauma.
Kurangnya dukungan emosional, atau bahkan pembelaan terhadap pelaku, dapat memperburuk kondisi yang dikenal sebagai secondary trauma. Penelitian dalam Journal of Anxiety Disorders menemukan bahwa penyintas yang tidak mendapatkan validasi dari orang terdekat cenderung mengalami kecemasan yang lebih parah.
Proses pemulihan sangat bergantung pada dukungan yang diterima, sehingga menciptakan rasa aman sangat penting untuk membantu penyintas pulih dengan lebih efektif. Dalam situasi ini, menghormati batasan dan menghindari pemicu berulang juga merupakan langkah kunci.
Kapan Mencari Bantuan Profesional?
Tidak semua serangan kecemasan akibat pemicu memerlukan intervensi medis, namun ada ciri-ciri yang mengindikasikan perlunya dukungan profesional. Jika gejala terus berulang atau semakin parah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, ini adalah tanda untuk mencari bantuan.
Panduan klinis dalam Journal of Anxiety Disorders menyarankan individu mencari bantuan ketika mengalami serangan cemas yang disertai gejala fisik berat seperti sesak napas atau jantung berdebar hebat. Terapi kognitif perilaku (CBT) menunjukkan efektivitas dalam membantu individu mengenali pemicu dan menurunkan respons stres.
Keberadaan cerita viral di media sosial bisa menambah beban psikologis, sehingga penting untuk memahami kondisi mental dan memberikan dukungan yang penuh empati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: