Setiap tahun, lebih dari 11 juta orang di seluruh dunia kehilangan nyawa akibat penyakit neurologis. Kondisi ini kini mempengaruhi hampir 3 miliar penduduk global, namun perhatian masih minim, terutama dari kebijakan pemerintah.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti bahwa banyak negara belum membuat kebijakan yang memadai untuk menangani tantangan besar ini. Data menunjukkan ketidakberdayaan sistem kesehatan di berbagai negara dalam menghadapi dampak penyakit neurologis.
Definisi dan Contoh Penyakit Neurologis
Penyakit neurologis mencakup berbagai kondisi yang mempengaruhi sistem saraf pusat dan tepi, termasuk otak dan sumsum tulang belakang. Beberapa contoh umum adalah stroke, epilepsi, Alzheimer, migrain, neuropati, meningitis, dan Autism Spectrum Disorder.
Setiap jenis penyakit neurologis memiliki karakteristik tersendiri dengan dampak yang berbeda-beda terhadap kualitas hidup individu. Gangguan ini dapat mengganggu fungsi tubuh penting, termasuk gerakan, sensasi, dan perilaku seseorang.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Terbaru dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Pendingin Canggih
Statistik Kematian dan Kebijakan Global
Menurut WHO, diperkirakan kematian akibat penyakit neurologis mencapai 11 juta jiwa setiap tahun, yang mencakup sekitar 40% dari populasi dunia. Namun, ironi terjadi ketika hanya 32% dari 194 negara yang memiliki kebijakan khusus untuk menangani masalah ini.
Lebih memprihatinkan, data menunjukkan bahwa hanya 18% negara yang memiliki anggaran yang teralokasi untuk penanganan penyakit neurologis. Sangat sedikit negara yang mengintegrasikan penyakit neurologis dalam paket jaminan kesehatan universal, dengan hanya 25% dari negara-negara yang telah melakukannya.
Ketimpangan dalam Akses Perawatan
Laporan dari WHO menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dalam akses perawatan untuk penyakit neurologis, terutama antara negara maju dan negara berpenghasilan rendah. Di beberapa daerah berpenghasilan rendah, jumlah ahli saraf bisa lebih sedikit hingga 82 kali dibandingkan di negara-negara kaya.
Keterbatasan biaya dan stigma sosial turut memperburuk situasi ini. Daerah terpencil seringkali tidak memiliki fasilitas yang memadai, seperti unit stroke dan tempat rehabilitasi, sehingga masyarakat di sana semakin sulit mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.
Baca juga: Manfaat Hyaluronic Acid: Solusi untuk Segala Jenis Kulit
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: