FOMO, atau Fear of Missing Out, semakin menjadi sorotan di kalangan anak muda di Indonesia saat ini. Ketika melihat aktivitas orang lain di media sosial, banyak yang merasa tertekan dan cemas akan ketinggalan momen berharga.
Baca juga: Penjarahan Rumah Uya Kuya: Korban dari Video Viral dan Respon Publik
Dampak dari FOMO bukan hanya sebatas perasaan tidak nyaman, namun juga bisa berujung pada masalah kesehatan mental yang serius. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai bagaimana pengalaman digital ini dapat mempengaruhi kesehatan mental generasi muda.
Pemahaman FOMO dan Mekanismenya
FOMO adalah perasaan cemas yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman menyenangkan yang diposting di media sosial. Fenomena ini mulai muncul di awal tahun 2000-an, namun semakin meluas seiring dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan platform digital.
Ketika seseorang terus-menerus memeriksa media sosial, perasaan terasing dan gelisah semakin meningkat. Hal ini bisa meng affectasi cara mereka memandang diri sendiri serta hubungan sosial yang terjalin dengan orang lain.
Menurut Dr. Andi Setiawan, seorang psikolog di Jakarta, 'Media sosial dapat menjadi sumber utama stres bagi banyak pengguna.' Interaksi yang tidak sehat di platform tersebut sering memperburuk perasaan cemas dan depresi di kalangan penggunanya.
Baca juga: Uya Kuya Terkena Imbas Penjarahan Pasca Video Joget Viral
Dampak FOMO terhadap Kesehatan Mental
FOMO berpotensi meningkatkan tingkat kecemasan yang dirasakan individu. Mereka yang mengalami FOMO cenderung merasa kurang berharga dan merasa bahwa hidup mereka tidak seimbang dibandingkan dengan orang lain yang aktif di dunia maya.
Masalah tidur juga menjadi salah satu konsekuensi dari FOMO. Rasa urgensi untuk terus memeriksa ponsel dapat mengganggu kualitas tidur, yang berpengaruh langsung pada kesehatan fisik dan mental.
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial cenderung lebih berisiko mengalami depresi. Dr. Siti Rahayu, seorang psikiater, menambahkan, 'Kombinasi dari ekspektasi sosial yang tinggi dan tekanan dari lingkungan digital dapat sangat merusak.'
Mengatasi Tantangan FOMO
Menyeimbangkan waktu di media sosial dengan aktivitas di dunia nyata adalah langkah awal yang penting untuk mengatasi FOMO. Menghabiskan waktu bersama teman atau berolahraga dapat mengurangi rasa cemas yang timbul akibat dunia digital.
Detoks digital, atau pengurangan penggunaan media sosial untuk jangka waktu tertentu, juga sangat disarankan. Ini memberi ruang bagi individu untuk menikmati aktivitas tanpa tekanan dari media sosial.
Sebagai langkah tambahan, penting untuk menggunakan media sosial dengan bijak. Memfilter konten yang dilihat dan memahami bahwa tidak semua yang terlihat di layar adalah kenyataan, bisa membantu meringankan beban emosional.
Baca juga: Dampak Perkataan Kasar Orang Tua terhadap Psikologi Anak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: