Tinnitus atau telinga berdenging adalah kondisi yang dialami oleh banyak orang di seluruh dunia, ditandai dengan suara yang muncul di telinga tanpa sumber eksternal.
Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Perlu Perlakuaan Istimewa di DPR
Penyebabnya beragam, mulai dari paparan suara keras hingga penyakit tertentu, dan pengobatannya tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan gejala.
Penyebab Tinnitus
Tinnitus dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah paparan suara keras secara berkepanjangan. Penelitian menunjukkan bahwa kebisingan dari lingkungan kerja, konser, atau alat musik dapat merusak sel-sel pendengaran.
Selain itu, infeksi telinga, penumpukan cairan, serta gangguan telinga tengah juga dapat memicu kemunculan tinnitus. Penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan stres juga menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan.
Salah satu kondisi medis yang sering dikaitkan dengan tinnitus adalah penyakit Meniere, yang ditandai dengan ketidakstabilan dan kehilangan pendengaran. Beberapa obat, termasuk antibiotik dan diuretik, dapat menyebabkan efek samping berupa tinnitus.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Terbaru dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Pendingin Canggih
Gejala Tinnitus
Gejala tinnitus umumnya berupa suara berdengung yang bervariasi dalam intensitas dan frekuensi. Suara tersebut bisa terdengar seperti desiran, bunyi lokan, atau bunyi yang terputus-putus.
Tinnitus bisa bersifat sementara atau berlangsung secara kronis, tergantung pada penyebabnya. Selain suara di telinga, penderita sering mengalami gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan perubahan mood.
Penting untuk diingat bahwa tinnitus bukanlah penyakit itu sendiri, melainkan gejala yang bisa menunjukkan adanya masalah kesehatan lainnya. Oleh karena itu, diagnosis yang tepat oleh tenaga medis sangat diperlukan.
Pengobatan Tinnitus
Pengobatan tinnitus dapat dilakukan dengan berbagai metode, tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan gejala. Dalam beberapa kasus, pengobatan mungkin tidak diperlukan jika gejalanya bersifat sementara.
Terapi suara, seperti menggunakan alat bantu dengar atau generator suara, sering direkomendasikan untuk meredakan gejala yang muncul. Terapi kognitif perilaku (CBT) juga dapat membantu pasien mengatasi dampak psikologis yang ditimbulkan oleh kondisi ini.
Pada kasus yang lebih serius, tindakan medis seperti pembedahan bisa menjadi pilihan jika terdapat kelainan struktural di telinga. Oleh karena itu, evaluasi dan konsultasi dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan sangat dianjurkan.
Baca juga: Pentingnya Olahraga Rutin untuk Kesehatan Jantung
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: