Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya pola signifikan dalam tren inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) selama Ramadan dalam lima tahun terakhir. Inflasi pada Ramadan 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya, meskipun masih ada faktor penyebab yang perlu diperhatikan.
Baca juga: Deddy Desta Nyatakan Tuntutan 17+8 dan Pesan untuk Prabowo
Inflasi Ramadan 2022 mencapai 0,95%, dengan fluktuasi yang dipicu oleh komoditas bergejolak dan harga emas. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memberikan penjelasan mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ini.
Analisis Inflasi dalam Lima Tahun Terakhir
Setiap tahun, inflasi selama Ramadan menjadi perhatian utama bagi masyarakat dan pemerintah. Data dari BPS menunjukkan bahwa tahun 2025 mencatat inflasi tertinggi dalam periode lima tahun terakhir dengan angka 1,65%.
Namun, inflasi pada tahun 2026 menunjukkan penurunan, sehingga terregistrasi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, faktor-faktor penyebab inflasi tetap dominan di bulan suci ini.
Ateng Hartono dalam konferensi pers menyatakan, "Secara umum, komoditas bergejolak, serta komoditas dari makanan, minuman dan tembakau, menjadi penyebab andil inflasi di setiap momen Ramadan."
Baca juga: Microsoft Luncurkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word dan Aplikasi Lain
Peranan Emas dalam Inflasi Ramadan 2026
Salah satu faktor kunci yang mendorong inflasi pada Ramadan 2026 adalah harga emas. Berdasarkan data BPS, inflasi emas tercatat sebesar 0,19%, menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap inflasi keseluruhan sejak Ramadan 2024.
Pada Februari 2026, inflasi emas bahkan mengalami kenaikan tinggi sebesar 8,42% secara tahunan. Ini menunjukkan dampak yang besar terhadap daya beli masyarakat.
Ateng menekankan bahwa fenomena inflasi emas memiliki dampak langsung terhadap inflasi keseluruhan, menambah kompleksitas dalam pengelolaan ekonomi saat bulan Ramadan.
Dinamika Penyebab Inflasi di Bulan Ramadan
Inflasi bukan hanya disebabkan oleh emas dan makanan, tetapi juga oleh komoditas bergejolak lainnya. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam berbagai upaya pengendalian inflasi yang naik menjelang hari raya.
BPS menegaskan peranan makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang utama inflasi. Sektor-sektor ini berpengaruh besar terhadap perubahan harga, khususnya saat permintaan tinggi pada bulan Ramadan.
Menghadapi tantangan inflasi yang terus meningkat, langkah-langkah strategis perlu segera diambil untuk menjaga kestabilan perekonomian, baik dari sisi produksi maupun konsumsi masyarakat.
Baca juga: Manfaat Hyaluronic Acid: Solusi untuk Segala Jenis Kulit
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: