Kamis, 09 OKTOBER 2025 • 15:30 WIB

Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial untuk Penyandang Disabilitas: Inovasi Terbaru dari BRIN

Author

Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial untuk Penyandang Disabilitas: Inovasi Terbaru dari BRIN

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan komitmennya dalam mendukung penyandang disabilitas melalui pemanfaatan Kecerdasan Artifisial (AI). Inisiatif ini disampaikan dalam webinar oleh Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PR KAKS) pada 8 Oktober 2025.

Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam di Perkotaan

Kepala PR KAKS BRIN, Anto Satriyo Nugroho, menekankan bahwa AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan mobilitas dan kemandirian bagi penyandang disabilitas. Ia menyatakan, "Kecerdasan Artifisial memiliki peran yang sangat potensial dalam menyempurnakan riset-riset tersebut."

Peran Kecerdasan Artifisial dalam Mobilitas Disabilitas

Kecerdasan Artifisial telah terbukti bermanfaat dalam meningkatkan aksesibilitas komunikasi bagi penyandang disabilitas. Salah satu fokus utama BRIN adalah teknologi Speech Recognition yang memungkinkan interaksi lebih mudah dengan perangkat digital.

Hilman Ferdinandus Pardede, Peneliti Ahli Utama di PR KAKS, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi pengenalan suara menjadi semakin akurat berkat kemajuan dalam kecerdasan artifisial dan machine learning. Namun, tantangan seperti variasi aksen, kondisi lingkungan yang bising, serta masalah privasi dan keamanan tetap menjadi perhatian penting.

Baca juga: Pengembalian Jam Tangan Mewah Ahmad Sahroni Usai Kejadian Penjarahan

Ia menekankan pentingnya terus mengembangkan teknologi ini agar inklusif dan adaptif, sehingga dapat memberikan manfaat nyata bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas di Indonesia.

Inovasi Facial Expression Recognition

Perekayasa Ahli Madya PR KAKS BRIN, Gembong Satrio Wibowanto, mengungkapkan bahwa riset terkait teknologi facial expression recognition (FER) berbasis kecerdasan artifisial juga menjadi inovasi penting. Teknologi ini dirancang membantu penyandang disabilitas dalam memahami dan merespon ekspresi wajah, sehingga mendukung komunikasi nonverbal.

Gembong menjelaskan bahwa teknologi ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan inklusif dan terapi, dengan membantu sistem digital mengenali emosi pengguna melalui ekspresi wajah. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan interaksi sosial dan kualitas hidup penyandang disabilitas.

Tantangan teknis seperti variasi ekspresi antar-individu dan keterbatasan dataset yang representatif harus diatasi. Gembong juga mengingatkan akan pentingnya menjaga privasi serta etika dalam penggunaan data wajah untuk memastikan teknologi ini membawa manfaat sosial yang luas.

Baca juga: Waspadai Gula Tersembunyi dalam Makanan Sehari-hari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU