Anak muda di China kini mengadopsi tren makan ulat sebagai bagian dari gaya hidup hemat. Tren ini muncul dari komunitas online bernama 'Asosiasi Pria Hemat'.
Baca juga: Dampak Perkataan Kasar Orang Tua terhadap Psikologi Anak
Ulat bread worm menjadi salah satu pilihan populer karena kaya protein serta lebih terjangkau dibandingkan daging unggas atau sapi. Harganya yang sekitar 12 yuan (Rp 28 ribu) per kilogram menjadikannya alternatif sehat dan ekonomis.
Keuntungan Mengkonsumsi Ulat
Ulat bread worm dipilih karena harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan sumber protein konvensional. Salah satu pengguna media sosial mencatat bahwa dengan mengonsumsi ulat ini untuk makan tiga kali, total biaya yang dikeluarkan hanya sekitar tiga yuan (Rp 7 ribu).
Komunitas ini juga berbagi berbagai cara untuk mengolah ulat ini, seperti mengukusnya untuk menghemat penggunaan minyak goreng. Beberapa individu mengolah ulat menjadi pasta, yang bisa digunakan untuk membuat pangsit atau burger.
Selain nilai ekonomisnya, beberapa pengguna juga mengklaim bahwa suara ulat saat bergerak di malam hari dapat membantu mengatasi masalah insomnia. 'Bonus lainnya, di malam hari saya taruh mangkuk berisi ulat di samping tempat tidur. Suara mereka merayap seperti gema ombak laut,' ungkap salah satu pengguna.
Baca juga: Pentingnya Rutin Minum Obat Cacing Bagi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Strategi Hemat Lainnya di Kalangan Anak Muda
Komunitas Asosiasi Pria Hemat ini juga memberikan banyak saran praktis untuk berhemat dalam kehidupan sehari-hari. Selain mengonsumsi ulat, terdapat ide cerdas seperti membekukan telur yang telah dikocok dengan wadah es batu sehingga satu butir telur dapat digunakan untuk tiga kali makan.
Penggunaan kembali bahan makanan seperti kulit dan tulang ayam juga dioptimalkan. Di dalam grup online, disarankan untuk memasak kulit dan tulang ayam menjadi sup, dan minyak dari kulit ayam panggang dapat digunakan untuk menumis nasi.
Aneka strategi terkait penghematan biaya pula disampaikan, seperti menyewa apartemen di bawah unit dengan sistem pemanas lantai agar tetap hangat di musim dingin tanpa mengeluarkan biaya tambahan yang tinggi.
Dampak Ekonomi dari Perubahan Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup ini berdampak signifikan terhadap pengeluaran tahunan mereka. Salah satu pengguna mencatat bahwa sebelumnya ia menghabiskan lebih dari 30 ribu yuan (sekitar Rp 70 juta) per tahun. Namun kini, setelah mengadopsi gaya hidup hemat, total pengeluaran mereka termasuk uang kuliah hanya sedikit di atas 10 ribu yuan (Rp 23,3 juta).
Perubahan pola makan dan cara hidup seperti ini mencerminkan tantangan ekonomi yang dihadapi oleh anak muda di China saat ini. Dengan biaya hidup yang terus meningkat, banyak yang memilih untuk memanfaatkan sumber daya yang lebih terjangkau.
Fenomena ini bukan hanya sekadar tren, tetapi juga sebuah strategi bertahan hidup yang efektif di tengah inflasi dan kenaikan harga. Keberadaan tren ini menunjukkan betapa kreatifnya anak muda dalam beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang sulit.
Baca juga: Menikmati Keindahan Sunset di Destinasi Terbaik Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: