Di era digital saat ini, scrolling di media sosial menjadi aktivitas sehari-hari bagi banyak orang. Kemudahan akses informasi dan hiburan di ponsel membuat kita terjebak dalam siklus yang sulit dihindari.
Baca juga: Makanan Kaya Vitamin C untuk Daya Tahan Tubuh yang Optimal
Fenomena ini tidak hanya berhubungan dengan kebiasaan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis yang mendalam. Mari kita telusuri lebih lanjut alasan di balik ketertarikan ini.
Daya Tarik Media Sosial
Media sosial sebenarnya dirancang untuk menarik perhatian kita melalui algoritma yang cerdas. Setiap konten yang muncul di beranda kita dioptimalkan untuk membuat pengguna terus mencari lebih banyak.
Ketika menemukan konten yang menarik, otak kita melepaskan dopamin, yang memberikan rasa senang. Inilah yang membuat kita berkeinginan untuk terus menggulir layar demi menemukan lebih banyak konten yang memuaskan.
Karena itu, tidak mengherankan jika scrolling dianggap seperti 'permainan' yang mengasyikkan. Setiap guliran bisa mempersembahkan kisah atau gambar baru yang menarik untuk dilihat.
Baca juga: Olahraga Low Impact: Pilihan Ideal untuk Pemula
Faktor Psikologis
Ketertarikan kita pada konten digital sering muncul dari kebutuhan untuk merasa terhubung. 'Social Connection' atau koneksi sosial menjadi hal yang sangat penting, dan scrolling bisa menjadi cara untuk merasa dekat dengan orang lain.
Namun, tekanan yang ditimbulkan dari kebiasaan scrolling ini bisa bercampur aduk. Banyak pengguna mengalami kecemasan atau depresi ketika membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih bahagia di media sosial.
Dr. David Lewis, seorang psikolog, mengungkapkan bahwa 'Kita seringkali tidak menyadari seberapa banyak kita tergantung pada media sosial untuk mendapatkan validasi.' Hal ini sangat relevan dengan fenomena scrolling tanpa henti yang kita cermati saat ini.
Dampak Sosial
Scrolling tanpa batas ini juga sangat dipengaruhi oleh tekanan sosial. Melihat teman atau orang lain yang aktif membagikan momen-momen menarik memunculkan dorongan untuk tetap terhubung dan tidak ketinggalan informasi.
'FOMO' atau Fear of Missing Out telah menjadi istilah yang sangat umum di kalangan pengguna media sosial. Perasaan ini memacu kita untuk terus menggulir agar tidak tertinggal dari tren atau berita terkini.
Seiring berjalannya waktu, ketergantungan pada scrolling dapat mengurangi interaksi di dunia nyata. Banyak orang lebih memilih berselancar di media sosial ketimbang bertemu dengan teman atau orang terdekat secara langsung.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan Sehari-hari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: