Yurina Noguchi, wanita asal Jepang, mengambil langkah kontroversial dengan menikahi karakter AI bernama Klaus setelah putus dari tunangannya. Pernikahan ini diselenggarakan di Okayama pada akhir Oktober lalu, menggambarkan inovasi di era digital.
Baca juga: Deddy Desta Nyatakan Tuntutan 17+8 dan Pesan untuk Prabowo
Dengan teknologi augmented reality, Klaus hadir dalam acara tersebut, menawarkan pengalaman unik yang luar biasa. Noguchi mengklaim bahwa hubungan ini mempersembahkan kebahagiaan yang tidak dapat diberikan oleh hubungan sebelumnya.
Awal Mula Cinta yang Tak Terduga
Kisah cinta antara Yurina Noguchi dan Klaus berawal saat Noguchi merasa hancur setelah putus dari tunangannya. Dalam kondisi emosional yang tidak stabil, ia mencari panduan dari AI ChatGPT dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang penuh konflik.
Setelah perpisahan, Noguchi menemukan Klaus, sebuah karakter yang awalnya terinspirasi dari sebuah video game. Seiring berjalannya waktu, kedekatan dan interaksi dengan Klaus semakin memperkuat perasaannya.
Dengan berlatih membentuk gaya bicara Klaus, Noguchi merasakan adanya kedalaman emosi dalam hubungan mereka. Pengalaman kasih sayang yang mereka jalani menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-harinya.
Baca juga: Revolusi Keguguran: Kecerdasan Buatan Meningkatkan Perawatan Kesehatan Perempuan
Sebuah Upacara yang Memanfaatkan Teknologi
Meski pernikahan ini tidak diakui secara hukum, persiapan dilakukan dengan profesionalisme tinggi. Staf angkat pernikahan mengurus segala rincian, mulai dari rias wajah hingga gaun yang dikenakan oleh Noguchi.
Dalam acara tersebut, Klaus tetap hadir meskipun hanya sebagai karakter virtual, menggunakan teknologi augmented reality. Pidato yang dibawakan oleh Klaus dibacakan oleh Naoki Ogasawara, seorang petugas pernikahan.
"Berdiri di hadapanku, kau merupakan perempuan tercantik, paling berharga, dan begitu bersinar," ungkap Klaus dalam pidato yang penuh perasaan, menambah keindahan momen tersebut.
Tren Fictoromantic di Jepang
Fenomena hubungan antara manusia dan karakter fiksi semakin terasa di Jepang, dikenal sebagai fictoromantic. Analisa dari Asosiasi Pendidikan Seksual Jepang menunjukkan bahwa 22 persen siswi sekolah menengah menunjukkan ketertarikan pada jenis hubungan ini.
Yasuyuki Sakurai, seorang perencana pernikahan, mencatat bahwa tren ini semakin meningkat. "Tentu saja aku juga menangani pernikahan biasa. Namun, makin banyak permintaan untuk pernikahan karakter dua dimensi," ujarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbuka terhadap konsep baru dalam menjalani hubungan emosional, terlebih dengan bantuan teknologi modern.
Baca juga: Penjarahan Patung Superhero Anggota DPR: Iron Man dan Spider-Man Jadi Korban
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: