Mengapa Tren Makanan Viral Mudah Membuat Kita Jenuh
Fenomena makanan viral semakin merajai dunia kuliner di Indonesia, namun seringkali membuat orang cepat merasa bosan. Hal ini menarik untuk diperhatikan, mengingat dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan.
Baca juga: Kementerian Perindustrian: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diajukan
Makanan seperti banana bread dan dalgona coffee menarik perhatian saat pertama kali muncul, tetapi mengapa rasa jenuh cepat datang? Mari kita dalami fenomena ini lebih jauh.
Salah satu alasan utama mengapa makanan viral cepat membosankan adalah kejenuhan rasa. Saat sebuah makanan menjadi populer, biasanya ia menawarkan rasa yang standar dan mudah ditemukan di tempat lain.
Banyak makanan viral dirancang untuk menarik perhatian secara visual, dengan cetakan unik atau warna cerah, namun tidak menawarkan keunikan rasa yang berkesinambungan. Hal ini membuat konsumen tidak mengalami pengalaman baru setelah mencobanya sekali.
Mengulangi pengalaman yang sama tanpa tantangan baru membuat orang kehilangan minat. Rasa yang familiar lebih mudah dilupakan, terutama jika dibandingkan dengan yang baru dan unik.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya
Makanan viral sering berkembang di media sosial, menciptakan ekspektasi tinggi di kalangan penggemarnya. Namun, sering kali kenyataan tidak sejalan dengan harapan, yang berujung pada rasa kecewa.
Seringkali, makanan yang menggiurkan dalam foto ternyata tidak menarik saat dinikmati secara langsung. Penurunan kualitas dari harapan awal ke yang nyata bisa menimbulkan frustrasi.
Ditambah dengan adanya 'FOMO' (Fear of Missing Out), banyak orang merasa perlu mencoba makanan tersebut segera. Namun, ketika tren itu mereda, minat untuk mencoba kembali secara signifikan berkurang.
Ketersediaan yang meningkat juga berperan dalam pengalaman konsumen. Saat banyak tempat menyajikan makanan yang sama, konsumen merasa terbombardir oleh pilihan.
Makanan yang dulu terasa langka dan eksklusif kini menjadi mudah ditemukan dan kehilangan nilai, karena banyaknya variasi. Ketika semua orang dapat mengaksesnya, daya tarik awal semakin pudar.
Ada kalanya konsumen ingin sesuatu yang lebih unik atau berbeda, tetapi apabila makanan terlalu dipasarkan, maknanya dapat hilang dan terasa monoton.
Baca juga: Waspadai Gula Tersembunyi dalam Makanan Sehari-hari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: