Toxic positivity adalah fenomena yang sering diabaikan, meski dampaknya dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang secara signifikan. Ungkapan-ungkapan sederhana seperti 'Semangat terus!' bisa jadi berbahaya ketika dihadapkan dengan emosi negatif yang perlu diakui.
Baca juga: Pentingnya Sarapan Sehat untuk Petinju
Masyarakat kerap terjebak dalam tekanan untuk selalu menunjukan sikap positif, walaupun dalam situasi sulit. Ketika perasaan dan masalah diabaikan, kesehatan mental bisa terancam tanpa disadari.
Pengertian Toxic Positivity
Toxic positivity adalah sikap memaksakan diri untuk selalu memiliki pandangan positif, meski dalam situasi yang tidak mendukung. Niat baik dibalik ungkapan seperti 'Ada hikmahnya' kadang bisa menyakiti orang yang tengah berduka.
Ketika menghadapi kehilangan, mengalihkan perhatian pada sisi positif dapat menenggelamkan perasaan duka yang sebenarnya perlu dihadapi. Psikolog menyatakan bahwa membatasi emosi yang boleh dirasakan dapat mengacaukan keseimbangan mental seseorang.
Penekanan pada sikap positif ini berpotensi mengabaikan validitas emosi negatif yang juga penting. Semua emosi memiliki peran masing-masing dalam perjalanan kesehatan mental.
Baca juga: Ketegangan di Rapat Komisi XIII DPR RI: Ahmad Dhani vs Willy Aditya
Dampak Negatif Toxic Positivity
Dampak toxic positivity sangat beragam, mulai dari masalah kesehatan mental hingga kerusakan hubungan antar individu. Tekanan untuk selalu merasa positif dapat mendorong seseorang untuk menekan emosi yang tidak menyenangkan.
Emosi negatif yang tidak diakui dapat membuat seseorang merasa terasing. Akibatnya, mereka bisa merasa kesepian dan tidak dimengerti, hal ini justru memperburuk kondisi mental mereka.
Dalam konteks sosial, kewajiban untuk selalu tampak baik juga membuat pemahaman tentang kesehatan mental menjadi sempit. Ketika emosi negatif dianggap tabu, individu merasa harus menyembunyikan kesedihan mereka.
Menciptakan Ruang untuk Emosi
Ada urgensi untuk menciptakan ruang bagi diri sendiri dan orang lain untuk berekspresi tanpa merasa tertekan. Mengakui perasaan negatif adalah langkah awal untuk memproses masalah yang dihadapi setiap individu.
Mendengarkan tanpa menghakimi dan memberikan dukungan emosional yang sesuai memperkuat hubungan antar individu. Mengajak orang bercerita tentang pengalaman mereka lebih berguna dibandingkan menekankan aspek positif saja.
Dari sudut pandang kesehatan mental, penerimaan berbagai jenis emosi membuat individu lebih tangguh. Selain itu, hal ini juga memfasilitasi lingkungan yang lebih sehat untuk pertumbuhan emosional.
Baca juga: Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin untuk Mencegah Penyakit
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: