Selasa, 17 FEBRUARI 2026 • 19:18 WIB

Memahami Keterkaitan Rasa Sakit Emosional dan Fisik dalam Patah Hati

Author

Memahami Keterkaitan Rasa Sakit Emosional dan Fisik dalam Patah Hati

Patah hati adalah pengalaman yang umum dan dialami oleh banyak orang, dengan lebih dari 80% individu merasakannya sepanjang hidup mereka. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga bisa dirasakan secara fisik.

Baca juga: Meningkatkan Produktivitas Melalui Fengshui Meja Kerja

Penelitian menunjukkan bahwa perasaan kehilangan, baik itu akibat putus cinta, kematian, atau keretakan persahabatan, memiliki dasar ilmiah yang menyebutkan hubungan erat antara nyeri emosional dan nyeri fisik.

Hubungan Antara Nyeri Fisik dan Emosional

Dr. Yoram Yovell, psikiater dan ahli neurosains dari Hadassah Ein Kerem Medical Center, mengatakan bahwa rasa sakit emosional adalah nyata dan bukan imajinasi. Dalam siniar Chasing Life, ia menyatakan, "Tanyakan kepada seseorang tentang hal paling menyakitkan yang pernah terjadi dalam hidup mereka," menegaskan bahwa kehilangan orang tercinta lebih menyakitkan dibandingkan dengan kecelakaan fisik.

Penelitian neurobiologi menunjukkan bahwa ketika seseorang mengalami kehilangan, area di otak yang bertanggung jawab untuk merasakan nyeri fisik juga diaktifkan. Hal ini menunjukkan bahwa nyeri emosional dan fisik memiliki mekanisme yang sama di dalam otak.

Dalam hal ini, sindrom takotsubo atau "sindrom patah hati" dapat muncul, menyerupai gejala serangan jantung, dan menunjukkan betapa seriusnya dampak emosional terhadap kesehatan fisik.

Baca juga: Ketegangan di Rapat Komisi XIII DPR RI: Ahmad Dhani vs Willy Aditya

Peran Sifat Alami Otak dalam Mengatasi Rasa Sakit

Otak manusia memiliki sistem pertahanan alami dalam bentuk hormon endorfin, yang berfungsi sebagai opioid alami. Dr. Yovell menjelaskan bahwa endorfin lebih efektif dalam meredakan nyeri dan memperbaiki suasana hati dibandingkan obat-obatan narkotika.

"Salah satu hal yang paling membantu adalah terhubung kembali dengan orang lain yang Anda cintai," kata Dr. Yovell, menekankan pentingnya interaksi sosial selama proses penyembuhan.

Aktivitas sosial dan olahraga yang dapat merangsang produksi endorfin menjadi elemen kunci dalam mempercepat pemulihan dari patah hati.

Dukungan Sosial dalam Proses Pemulihan

Menurut Dr. Yovell, dukungan dari teman dan keluarga sangat krusial, terutama bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesedihan. "Anda memiliki kekuatan untuk menghibur orang terkasih yang berada dalam tekanan fisik atau emosional yang dalam," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa rasa sakit akut sering kali membuka mata kita mengenai siapa yang benar-benar kita pedulikan. Namun, jika rasa sakit tersebut berlanjut dan memicu keinginan untuk bunuh diri, sangat penting untuk segera mendapatkan intervensi medis.

Di akhir sesi wawancara, Dr. Yovell membagikan pesan harapan: "Hati itu kuat. Memang benar itu menyakitkan. Tapi hati bisa sembuh, dan masih ada orang-orang yang mencintaimu." Pesan ini menegaskan bahwa meskipun rasa sakit dan kehilangan merupakan bagian dari kehidupan, dukungan yang tepat dapat membantu proses pemulihan.

Baca juga: Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin untuk Mencegah Penyakit

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU