Gusti Purbaya Dilantik Sebagai Raja Keraton Surakarta: Menghadapi Tantangan dan Harapan Baru
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat telah resmi menyiapkan peralihan kepemimpinan setelah wafatnya Pakubuwono XIII pada tanggal 2 November 2025. Gusti Purbaya diangkat sebagai Raja dengan gelar Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIV.
Baca juga: Anggota DPR Dinonaktifkan, Gaji Tetap Diterima di Tengah Kontroversi
Latar belakang dan pendidikan Gusti Purbaya menjadi sorotan, terutama setelah dilantik sebagai putra mahkota pada 27 Februari 2022. Ia saat ini menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro dan Program Magister Politik dan Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada.
Gusti Purbaya lahir di Surakarta pada 26 September 2002, sebagai putra bungsu dari Pakubuwono XIII dan permaisuri GKR Pakubuwana, atau KRAy Pradapaningsih. Ia dibesarkan dalam budaya keraton yang kaya akan tradisi dan nilai spiritual.
Sejak kecil, Gusti Purbaya dikenal sebagai sosok yang cerdas, pendiam, dan berwibawa. Ia memiliki perhatian besar terhadap budaya Jawa, yang menjadi bagian integral dari identitasnya.
Setelah diangkat sebagai putra mahkota, Gusti Purbaya melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Selain itu, ia juga aktif sebagai mahasiswa Program Magister Politik dan Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada.
Baca juga: Penjarahan Patung Superhero Anggota DPR: Iron Man dan Spider-Man Jadi Korban
Prosesi penobatan Gusti Purbaya dilaksanakan pada Rabu, 5 November 2025, dan ia menyatakan ikrarnya untuk menaiki tahta dengan sebutan SISKS Pakubuwana XIV. Penobatan ini dilakukan setelah pelepasan jenazah ayahandanya, dan prosesnya telah melalui musyawarah keluarga.
Namun, penobatan ini menuai kontroversi karena beberapa pihak di dalam keraton merasa bahwa prosedur adat tidak sepenuhnya diikuti. Munculnya ketidakpuasan ini menjadi bahan perdebatan di kalangan masyarakat dan tokoh keraton.
Pihak yang tidak setuju menyatakan bahwa ada ketidakjelasan dalam proses pengangkatan dan prosedur yang diambil. Hal ini menjadi tantangan awal bagi Gusti Purbaya dalam memimpin dan mempertahankan tradisi keraton.
Gusti Purbaya menarik perhatian publik saat sebuah unggahan di Instagram-nya menjadi viral, di mana ia mengekspresikan penyesalan atas bergabungnya Keraton Surakarta ke dalam Republik Indonesia. Unggahan tersebut mengundang berbagai tanggapan dari masyarakat.
KPA H Dany Nur Adiningrat, Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat, merespons dengan menyatakan bahwa penyesalannya merupakan kritik terhadap isu BBM oplosan. Ini menunjukkan sikap kecintaan Gusti Purbaya terhadap bangsa dan kepekaannya terhadap isu sosial.
Masyarakat berharap bahwa kepemimpinan baru ini dapat membawa perubahan positif dan membantu pelestarian tradisi Jawa di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Tidur dengan Prinsip Fengshui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: