Mengapa Keamanan Canggih Masih Rentan Akibat Kesalahan Manusia
Sistem keamanan canggih sering kali dianggap tak tertembus, namun faktanya banyak insiden kebocoran data disebabkan oleh kelalaian manusia.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Catat Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Studi menunjukkan bahwa hampir 90% insiden keamanan siber berkaitan dengan faktor manusia, menekankan perlunya pelatihan dan kesadaran yang lebih baik.
Human error atau kesalahan manusia adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi keamanan sistem. Kesalahan ini dapat terjadi melalui tindakan sederhana, seperti membuka email phishing atau mengonfigurasi pengaturan keamanan secara keliru.
Walaupun sistem dirancang dengan tingkat keamanan tinggi, efektivitasnya tetap bergantung pada pengguna. Tanpa pelatihan dan kesadaran yang cukup, semua investasi dalam teknologi bisa menjadi sia-sia.
Contoh nyata dari dampak human error adalah insiden kebocoran data yang melibatkan informasi ribuan pengguna. Ini biasanya terjadi bukan karena kelemahan sistem, melainkan karena tindakan salah seorang karyawan yang mengklik link berbahaya.
Baca juga: Revolusi Keguguran: Kecerdasan Buatan Meningkatkan Perawatan Kesehatan Perempuan
Dampak dari human error dapat merugikan perusahaan dan pengguna simultan. Ketika data sensitif jatuh ke tangan yang salah, konsekuensinya bisa berjangka panjang dan sulit untuk diperbaiki.
Berdasarkan laporan, biaya finansial yang ditimbulkan akibat kebocoran data bisa mencapai juta dolar. Kerugian ini dihasilkan dari downtime dan biaya pemulihan pasca insiden.
Selain faktor finansial, reputasi perusahaan juga dapat hancur dalam sekejap. Membangun kembali kepercayaan pelanggan yang hilang adalah proses yang menantang dan bisa memakan waktu.
Salah satu langkah awal dalam mengatasi masalah ini adalah memberikan pelatihan intensif kepada semua karyawan. Materi pelatihan harus mencakup praktik terbaik dalam keamanan siber serta pengenalan terhadap jenis serangan yang umum terjadi.
Penerapan kebijakan keamanan yang ketat sangat penting sebagai langkah lanjutan. Contohnya adalah penggunaan otentikasi dua faktor dengan akses terbatas pada data sensitif hanya bagi pihak yang membutuhkannya.
Rutin melakukan pengujian dan evaluasi pada sistem keamanan juga krusial. Penilaian berkala dapat membantu menemukan celah yang mungkin ada sebelum celah tersebut dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Baca juga: Sri Mulyani Serukan Cinta Tanah Air Pasca Insiden Penjarahan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: