Startup kecerdasan buatan asal China, DeepSeek, tengah menjadi sorotan dunia setelah sejumlah negara memutuskan untuk melarang penggunaannya.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual Berbasis AI untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Akurat
Keputusan ini diambil karena kekhawatiran mengenai kebijakan privasi yang mengharuskan penyimpanan data pengguna di server China.
Respons Global Terhadap DeepSeek
Kekhawatiran mengenai DeepSeek berkaitan dengan kebijakan privasi yang mewajibkan penyimpanan data pengguna di China. Negara-negara seperti Australia dan Republik Ceko telah melarang penggunaan aplikasi ini di kalangan institusi pemerintah, mengkhawatirkan dampaknya terhadap keamanan nasional.
Pada awal Februari, Australia menerapkan larangan pemakaian DeepSeek bagi semua perangkat pemerintah, mengingat potensi ancaman yang timbul akibat aplikasi tersebut. Sementara itu, pemerintah Ceko juga mengambil langkah serupa dengan melarang administrasi publik untuk menggunakan layanan DeepSeek agar informasi sensitif tidak bocor.
Prancis juga memberikan respon dengan menyatakan akan memanggil DeepSeek untuk mendapatkan penjelasan terkait cara kerja sistem AI mereka. Ini menunjukkan upaya preventif yang dilakukan guna meminimalisir risiko bagi pengguna di negara tersebut.
Selain itu, Jerman menuntut Apple dan Google untuk menghapus DeepSeek dari toko aplikasi mereka, menegaskan komitmen untuk melindungi data pribadi masyarakat di tengah meningkatnya kesadaran akan pengumpulan data yang meragukan.
Larangan dan Investigasi oleh Negara-Negara Lain
Di India, Kementerian Keuangan telah melarang pegawainya menggunakan DeepSeek maupun alat AI lainnya untuk urusan resmi. Langkah ini diambil untuk menjaga kerahasiaan dokumen pemerintah yang semakin diperhatikan.
Baca juga: Peluncuran Realme Chill Fan Phone: Inovasi Baterai Jumbo dan Teknologi Pendingin Canggih
Sementara itu, Italia menyelesaikan investigasi terhadap praktik pengumpulan data DeepSeek setelah mendapatkan komitmen dari perusahaan. Pengawasan ini merupakan bukti respons Eropa terhadap masalah privasi data, terutama setelah aplikasi ini diblokir pada Januari 2025 karena kurangnya informasi mengenai penggunaan data pribadi.
Di Belanda, badan pengawas privasi menerbitkan pernyataan yang menghimbau masyarakat agar berhati-hati saat menggunakan aplikasi ini. Larangan terhadap pegawai negeri merupakan strategi untuk melindungi data negara dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang ada.
Korea Selatan juga mengambil langkah tegas dengan menghentikan unduhan aplikasi DeepSeek akibat ketidakpatuhan terhadap aturan perlindungan data. Walaupun akses pegawai diblokir, layanan tersebut dibuka kembali setelah dinyatakan aman.
Sikap Amerika Serikat Terhadap DeepSeek
Kebijakan terkait DeepSeek juga menjadi sorotan di Amerika Serikat. Administrasi Trump pada April lalu mempertimbangkan sanksi untuk melarang perusahaan tersebut dari membeli teknologi AS dan membatasi akses warga Amerika terhadap layanan yang ditawarkan.
Setelah itu, pada bulan Desember 2025, beberapa anggota parlemen mengirim surat kepada Menteri Pertahanan untuk menambahkan DeepSeek ke dalam daftar entitas yang dianggap membantu militer China. Ini mencerminkan ketegangan yang ada antara AS dan China yang berdampak pada kebijakan keamanan teknologi.
Setahun setelahnya, tujuh senator Republik meminta Departemen Perdagangan untuk mengevaluasi kerentanan keamanan data dari model AI seperti DeepSeek. Ini menunjukkan perhatian yang besar terhadap teknologi asing yang dianggap dapat menimbulkan ancaman bagi keamanan nasional.
Langkah-langkah ini menekankan perlunya regulasi dan kontrol lebih ketat terhadap penggunaan teknologi berpotensi berbahaya dari China yang kini menjadi topik kontroversial di panggung global.
Baca juga: Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin untuk Mencegah Penyakit
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: