Sekelompok ilmuwan berhasil melatih mini otak buatan untuk menyelesaikan tugas sederhana menggunakan sinyal listrik, membuka jalan baru dalam penelitian penyakit saraf.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Catat Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Temuan ini memberikan wawasan lebih dalam tentang bagaimana otak belajar dan merespon rangsangan, serta potensi untuk pengembangan terapi baru.
Pengembangan Mini Otak Buatan
Mini otak yang digunakan dalam penelitian ini bukan berasal dari jaringan manusia, melainkan dari sel punca tikus yang ditumbuhkan menjadi kelompok kecil jaringan otak.
Sel punca sendiri merupakan sel induk dengan kemampuan berkembang biak. Meskipun mini otak ini tidak cukup kompleks untuk berpikir atau merasakan, ia mampu mengirim dan menerima sinyal listrik.
Koneksi di dalam mini otak dapat bervariasi berdasarkan rangsangan dari luar. Peneliti menghubungkan mini otak tersebut ke simulasi keseimbangan virtual, mirip dengan menyeimbangkan penggaris di atas telapak tangan.
Baca juga: Waspadai Gula Tersembunyi dalam Makanan Sehari-hari
Metodologi Penelitian dan Temuan
Dalam penelitian ini, sinyal listrik digunakan untuk memberi tahu mini otak tentang kemiringan tiang virtual. Responsnya kemudian diterjemahkan menjadi perintah untuk menggerakkan kereta virtual ke kiri atau ke kanan.
"Kami mencoba memahami dasar-dasar bagaimana neuron dapat disesuaikan secara adaptif untuk memecahkan masalah," ungkap Ash Robbins, Peneliti Robotika dan Kecerdasan Buatan dari University of California Santa Cruz.
Penelitian berjudul Goal-Directed Learning in Cortical Organoids ini membagi mini otak menjadi tiga kelompok percobaan, yaitu tanpa umpan balik, umpan balik acak, dan umpan balik adaptif yang disesuaikan dengan kinerja.
Hasil Penelitian dan Implikasi
Hasil menunjukkan bahwa mini otak tanpa panduan hanya mencapai tolok ukur kinerja 2,3 persen, sedangkan yang diberi umpan balik acak mencapai 4,4 persen.
Mini otak dengan umpan balik adaptif mencatatkan hasil terbaik dengan 46 persen. "Ketika kami bisa secara aktif memilih rangsangan pelatihan, kami benar-benar bisa membentuk jaringan untuk memecahkan masalah," ujar Robbins.
Meskipun hasil ini menjanjikan, terdapat keterbatasan di mana mini otak yang sudah dilatih akan segera "lupa" dalam waktu 45 menit jika tidak aktif.
Baca juga: KPop Demon Hunters, Fenomena Baru di Netflix
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: