Ibu Kota Nusantara: Antara Harapan dan Tantangan
Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur kini muncul sebagai pengganti Jakarta yang tengah berjuang dengan masalah polusi dan kepadatan penduduk. Namun, ada kekhawatiran bahwa IKN bisa menjadi kota hantu, meskipun banyak harapan untuk meratakan pembangunan di seluruh Indonesia.
Baca juga: Kementerian Perindustrian: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diajukan
Para pengunjung menyambut kemodernan IKN yang bersih dan tertata rapi, menyerupai suasana di Singapura. Namun, kesunyian yang terasa di kawasan ini juga membuat beberapa pengunjung merasa canggung dan ragu akan masa depan IKN.
Salah satu pengunjung, Clariza, seorang wisatawan asal Sulawesi, mengagumi kemodernan IKN. 'Rasanya seperti Singapura. Bersih, modern, seperti sesuatu yang mustahil di tengah hutan,' ungkapnya sambil menikmati infrastruktur yang ada.
Namun, Clariza juga merasakan ketidaknyamanan karena kesunyian kawasan tersebut, 'Tapi juga terasa aneh dan sepi. Belum ada siapa-siapa di sini,' tambahnya, yang mencerminkan kekhawatiran banyak orang mengenai masa depan IKN.
Bagi Clariza, keberadaan ibu kota baru di IKN adalah kesempatan besar bagi pembangunan di luar Pulau Jawa. 'Bagi kami yang tinggal di wilayah timur, terasa lebih terpusat kalau ibu kota berada di sini,' ujarnya.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Catat Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Dalam rangka mewujudkan IKN sebagai ibu kota baru, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025 menetapkan target pembangunan dalam tiga tahun ke depan dengan fokus pada pengembangan kawasan inti pusat pemerintahan seluas 800-850 hektare. Dari target ini, diharapkan 20% pembangunan gedung di IKN sudah bisa terwujud.
Perpres tersebut juga mengatur tentang pembangunan hunian yang layak dan terjangkau, dimana diharapkan pencapaiannya bisa mencapai 50%. Komitmen pemerintah untuk mempercepat pembangunan IKN terlihat dari penunjukan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang diusulkan untuk mengadakan kantor di IKN.
Pembukaan IKN untuk wisatawan juga terlihat dari data yang mencatat selama libur Lebaran 2025, kawasan ini dikunjungi sebanyak 64 ribu pelancong. Ini menunjukkan adanya minat yang signifikan dari wisatawan domestik dan mancanegara untuk mengeksplorasi ibu kota baru.
Masyarakat lokal, terutama suku Balik yang tinggal di tepi Sungai Sepaku, merasakan langsung dampak dari pembangunan IKN. Petani dan nelayan lokal, seperti Arman, mengungkapkan kekhawatiran mengenai perubahan lingkungan yang bisa berdampak pada kehidupan mereka.
'Air itu hanya mengalir ke IKN,' keluh Arman, yang menunjukkan bahwa akses terhadap air bersih menjadi persoalan bagi masyarakat setempat. Mereka berharap keberadaan ibu kota baru tidak justru membuat mereka semakin terpinggirkan.
'Kalau proyek ini berhenti, kami kehilangan segalanya, tetapi kalau terus berjalan tanpa melibatkan kami, kami juga kehilangan,' tegas Arman, menyoroti dilema yang mereka hadapi antara kemajuan dan keberlanjutan kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Peluncuran Realme Chill Fan Phone: Inovasi Baterai Jumbo dan Teknologi Pendingin Canggih
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: