Alasan Negara Arab Mengandalkan Pasir Impor Meski Dikelilingi Gurun
Negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) memilih untuk mengimpor pasir meskipun memiliki gurun pasir yang luas. Kebutuhan konstruksi yang meningkat memaksa mereka mencari pasokan dari negara lain.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Catat Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Data dari Observatory of Economic Complexity (OEC) menunjukkan bahwa negara-negara ini mengandalkan pasir dari Australia, China, dan Belgia. Hal ini menunjukkan ketergantungan yang signifikan pada sumber pasokan luar negeri untuk memenuhi proyek pembangunan.
Pasir gurun memiliki karakteristik butiran yang terlalu bulat dan halus. Proses erosi yang berlangsung selama ribuan tahun membuat pasir ini tidak cocok untuk pembuatan beton yang memerlukan butiran kasar dan bersudut.
Proyek-proyek konstruksi umumnya membutuhkan pasir yang berasal dari dasar sungai, danau, dan laut. Lingkungan tersebut menghasilkan butiran yang lebih bersudut dan dapat mengikat lebih efektif dalam campuran beton.
Keberadaan pasir gurun yang berlimpah menjadi tantangan tersendiri bagi negara-negara ini, terutama dalam konteks proyek Vision 2030 Arab Saudi yang mencakup pengembangan kota futuristik seperti NEOM.
Baca juga: Anggota DPR Dinonaktifkan, Gaji Tetap Diterima di Tengah Kontroversi
Australia muncul sebagai salah satu eksportir pasir terbesar di dunia, dengan data OEC menunjukkan bahwa pada tahun 2023, Australia mengekspor pasir senilai US$273 juta. Arab Saudi tercatat mengimpor pasir senilai sekitar US$140 ribu dari Australia pada tahun yang sama.
Meskipun nilai impor yang terlihat kecil, ini menandakan ketergantungan strategis Arab Saudi terhadap kualitas pasir untuk proyek-proyek berskala besar mereka. Megaproyek seperti NEOM dan The Line membutuhkan pasokan beton dalam jumlah besar yang tak dapat dipenuhi oleh pasir lokal.
Proyek-proyek ini juga menghadapi tantangan signifikan terkait penyediaan material konstruksi yang memenuhi standar internasional, termasuk pasir berkualitas tinggi.
Kondisi yang dialami Arab Saudi serupa dengan yang dialami Uni Emirat Arab, terutama di Dubai dan Abu Dhabi, yang juga tergantung pada pasir impor. Pembangunan Burj Khalifa adalah salah satu contoh di mana pasir gurun lokal tidak layak digunakan.
Pembangunan Palm Jumeirah di UEA, yang membutuhkan 186,5 juta meter kubik pasir laut, mencerminkan krisis geografis yang lebih besar. PBB dan UNEP telah memperingatkan tentang dampak negatif dari eksploitasi pasir yang besar-besaran terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Untuk mengatasi masalah ini, beberapa negara dan wilayah mulai mengeksplorasi alternatif seperti pasir buatan dan memanfaatkan limbah konstruksi daur ulang. Namun, Arab Saudi hingga kini belum memiliki kebijakan komprehensif untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan impor.
Baca juga: Sri Mulyani Serukan Cinta Tanah Air Pasca Insiden Penjarahan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: