Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengekspresikan keprihatinannya terhadap masalah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang cepat basi dan bisa menyebabkan keracunan. Ungkapan tersebut disampaikan dalam pidatonya di acara gerakan pangan murah yang diselenggarakan oleh DPKP DIY.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Catat Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Dalam kesempatan tersebut, Sultan berbagi pengalaman pribadi saat memasak untuk banyak orang pada masa tanggap darurat, seperti di saat erupsi Merapi, dan menekankan bahwa memasak dalam jumlah besar tidak sekompleks yang sering dipersepsikan.
Pengalaman Memasak di Dapur Umum
Sri Sultan menjelaskan pentingnya mengetahui bahan makanan yang mudah basi. Ia menegaskan, "Sebetulnya nggak rumit, kenapa keracunan?", menandaskan bahwa inti masalah lebih bersangkutan dengan metode dan waktu saat memasak.
Sultan mengenang pengalaman memasak dalam situasi krisis akibat erupsi Merapi pada tahun 2010. Ia menginginkan agar proses memasak di dapur umum dilakukan lebih efisien agar kualitas pangan yang dihasilkan tetap terjaga.
Ia juga mengingatkan, "Bisa nggak, 02.30 itu jangan masak sayur? Ya kan?", menunjukkan pentingnya perhatian pada jenis makanan dan waktu penyajiannya untuk mengurangi risiko keracunan.
Baca juga: Destinasi Liburan Solo di Indonesia yang Menarik untuk Dijelajahi
Pentingnya Pengelolaan Makanan
Sultan menyampaikan bahwa pengalaman langsung di dapur umum meningkatkan pemahamannya mengenai pengelolaan makanan di situasi darurat. Ia mengemukakan bahwa menu yang disiapkan sore hari tidak seharusnya disajikan keesokan paginya jika tidak dikelola dengan baik.
Beliau menyatakan, "Udah itu pasti," saat menjelaskan pentingnya proses memasak yang memadai, di mana air dapat menjadi indikator utama kualitas makanan yang layak konsumsi.
Selain itu, Sultan juga mengingatkan semua pihak agar memperbaiki prosedur penyiapan makanan demi mencegah insiden keracunan yang dapat merugikan banyak orang.
Menciptakan Standar Penyajian Pangan
Sebagai respons terhadap isu ini, Sultan mendorong penerapan standar yang lebih baik dalam penyajian makanan bergizi. Hal ini diharapkan meningkatkan keselamatan dan kesehatan masyarakat, terutama dalam program pangan bersubsidi.
Beliau menekankan pentingnya memasak dengan pemahaman penuh terhadap risiko dan manajemen waktu yang baik. Sehingga tidak ada keraguan terhadap kualitas makanan yang disajikan.
Sultan menutup pembicaraannya dengan harapan agar pengalaman buruk dari masa lalu tidak terulang, dan tindakan preventif dapat dilakukan secara efektif untuk menjamin kualitas pangan.
Baca juga: Ketegangan di Rapat Komisi XIII DPR RI: Ahmad Dhani vs Willy Aditya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: