Hubungan antara Jepang dan China kembali mengalami ketegangan, berdampak signifikan pada sektor pariwisata Jepang. Peringatan perjalanan yang dikeluarkan oleh pemerintah China mencerminkan situasi politik yang memburuk antara kedua negara.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Catat Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengenai kemungkinan penggunaan kekuatan militer dalam konflik Taiwan memicu reaksi keras dari Beijing. Kebijakan ini menyebabkan penurunan jumlah pelancong asal China yang datang ke Jepang.
Latar Belakang Ketegangan
Ketegangan antara Jepang dan China meningkat seiring dengan pernyataan yang disampaikan oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. Dalam rapat parlemen tanggal 7 November 2025, Takaichi menekankan kemungkinan penggunaan kekuatan militer oleh China dalam konflik terkait Taiwan sebagai ancaman bagi Jepang.
Pernyataan tersebut mengacu pada hukum keamanan Jepang yang diundangkan pada tahun 2015, di mana Jepang dapat mengerahkan pasukan jika sekutunya diserang. Reaksi negatif dari pemerintah China muncul, menganggap pernyataan tersebut sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri mereka.
Ketegangan ini menciptakan gambaran yang lebih luas tentang dinamika kekuatan di kawasan Asia Timur dan mengubah arah hubungan diplomatik antara dua negara besar tersebut.
Baca juga: Anggota DPR Dinonaktifkan, Gaji Tetap Diterima di Tengah Kontroversi
Dampak Terhadap Pariwisata Jepang
Peringatan perjalanan yang dikeluarkan oleh pemerintah China menandakan penurunan tajam dalam angka kunjungan wisatawan China ke Jepang. Data dari Citi menunjukkan bahwa Jepang adalah destinasi favorit keempat bagi wisatawan China dari Januari hingga November 2024, dengan sekitar 7 juta pengunjung.
Namun, setelah pernyataan Takaichi, saham perusahaan-perusahaan pariwisata Jepang mengalami penurunan. Perusahaan seperti Isetan Mitsukoshi dan Japan Airlines mencatat penurunan masing-masing sebesar 10,7% dan 4,4%, menunjukkan dampak langsung dari ketegangan diplomatik terhadap industri pariwisata.
Situasi ini mengkhawatirkan bagi banyak pelaku industri pariwisata Jepang, yang mengandalkan wisatawan asal China sebagai salah satu sumber pendapatan utama.
Respon China dan Jepang terhadap Ketegangan
Sebagai langkah responsif, pemerintah China menyarankan warganya untuk menunda perjalanan ke Jepang dan meningkatkan kewaspadaan terhadap pelajar China yang sedang belajar di Jepang. Pemerintah China menyatakan bahwa mereka berisiko menghadapi keadaan yang tidak aman.
Juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, meminta pemerintah China untuk mengambil langkah yang lebih proporsional dalam merespon situasi ini. Dia juga mengungkapkan bahwa pejabat tinggi Jepang dan China dijadwalkan untuk bertemu pada 18 November 2025 untuk membahas situasi yang semakin memanas.
Pertemuan ini diharapkan dapat membuka saluran komunikasi dan meredakan ketegangan yang ada, dengan fokus pada stabilitas dan kerjasama antara kedua negara.
Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Tidur dengan Prinsip Fengshui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: