Industri Pariwisata Jepang Hadapi Tantangan Boikot Wisata dari China
Industri pariwisata Jepang menunjukkan ketahanan di tengah seruan boikot wisata dari China. Meskipun jumlah wisatawan dari China menurun, pelaku bisnis lokal tetap optimis dan mencari alternatif untuk mengatasi situasi ini.
Baca juga: Makanan Kaya Vitamin C untuk Daya Tahan Tubuh yang Optimal
Seruan boikot wisata yang diluncurkan oleh China berdampak pada beberapa pelaku bisnis pariwisata Jepang. Shiina Ito, seorang pebisnis di industri perhiasan, mengatakan jumlah pelanggan dari China di tokonya mengalami penurunan yang signifikan.
Ito menjelaskan bahwa pelanggan asal China biasanya menyumbang setengah dari total pembeli di tokonya yang terletak di Asakusa, Tokyo. Namun, ia menyatakan penurunan ini tidak terlalu mempengaruhi penjualan keseluruhan karena peningkatan pengunjung domestik.
Ia menambahkan, "Karena jumlah pelanggan Tiongkok lebih sedikit, pembeli Jepang menjadi sedikit lebih mudah untuk berkunjung, jadi penjualan kami tidak terlalu turun." Sikap optimis ini mencerminkan bahwa pelaku bisnis berusaha beradaptasi dengan kondisi yang ada.
Jepang memiliki ketergantungan signifikan terhadap wisatawan asal China yang dikenal dengan pengeluaran lebih tinggi dibanding wisatawan asing lainnya. Rata-rata, pengunjung Tiongkok menghabiskan lebih banyak uang dalam konsumsi, mulai dari makanan hingga perawatan kulit.
Baca juga: Dampak Perkataan Kasar Orang Tua terhadap Psikologi Anak
Di distrik perbelanjaan Ginza, Yuki Yamamoto, manajer restoran mi udon, menuturkan bahwa meskipun belum melihat dampak langsung dari pembatasan perjalanan oleh China, ia tetap waspada terhadap penurunan pelanggan ke depannya.
Ia menyatakan, "Saya rasa tidak ada perubahan yang tiba-tiba dan dramatis," sambil memperkirakan bahwa setengah dari pengunjung di restorannya adalah orang China. Hal ini menandakan kekhawatiran yang ada di kalangan pelaku bisnis.
Data resmi menunjukkan bahwa pada sembilan bulan pertama tahun 2025, Jepang menerima hampir 7,5 juta pengunjung dari China, yang merupakan seperempat dari total wisatawan mancanegara. Meskipun ada penurunan, angka ini masih dianggap signifikan bagi industri pariwisata Jepang.
Wisatawan asal China tercatat mengeluarkan dana sebesar US$3,7 miliar pada kuartal ketiga tahun ini. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mencatat bahwa pengunjung asal China menghabiskan rata-rata 22 persen lebih banyak dibandingkan wisatawan dari negara lain.
Namun, peningkatan jumlah wisatawan yang mengunjungi Jepang juga menimbulkan kekhawatiran mengenai pariwisata berlebihan, yang dapat berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.
Baca juga: Ketegangan di Rapat Komisi XIII DPR RI: Ahmad Dhani vs Willy Aditya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: